Legenda dan Cerita Rakyat Nusantara Legenda dan Cerita Rakyat Nusantara

PERISAI MUKMIN CHANNEL YOUTUBE

Berbagi kumpulan shalawat Nabi dan dzikir yang sangat baik di amalkan dalam kehidupan sehari hari

MP3 LAGU-LAGU PRAMUKA

Lagu-lagu pramuka yang ber-irama cerdas dan riang selalu setia menemani anggota pramuka, baik pada saat latihan rutin maupun berkemah, mengajak generasi bangsa untuk selalu memiliki jiwa dan keyakinan yang mantap dalam mengisi pembangunan nasional.

MP3 LAGU ANAK INDONESIA

Lagu anak Indonesia walaupun lirik lagunya singkat tapi isinya syarat dengan pesan orang tua terhadap anaknya. Bagi ada yang mempunyai anak kecil, sangat baik jika menguasai lagu-lagu khusus untuk anak-anak karena disamping liriknya mudah diingat juga lagu lagu tersebut mengandung pesan moral yang baik bagi anak kita tercinta.

MP3 LAGU DAERAH NUSANTARA INDONESIA

Nusantara Indonesia yang bergitu luas terdiri dari beragam macam etnis dan suku budaya yang masing-masing memiliki kebudayaan yang berbeda satu sama lainnya. Salah satu budaya daerah yang selalu menjadi kebanggaan daerah masing-masing bahkan menjadi kebanggaan nasional adalah berupa Lagu Daerah.

MP3 LAGU PERJUANGAN DAN WAJIB NASIONAL

Lagu atau musik perjuangan ialah lagu yang membangkitkan semangat persatuan untuk melawan penjajah. Mengingat, mengenang, memperkenalkan kepada generasi muda bangsa indonesia bagaimana semangat dan perjuangan pahlawan-pahlawan yang telah berjasa membela negara di masa lampau.

JELAJAH WISATA DI INDONESIA

Indonesia kaya akan Keindahan alamnya, masing-masing punya pesona dan keistimewaan khas tersendiri yang tak akan dapat ditemukan di belahan bumi manapun. Tidak hanya itu, tempat wisata buatan pun juga ikut meramaikan bursa tempat wisata pilihan di indonesia. Dengan mengetahuinya kita akan tertarik, namun dengan menyaksikannya langsung akan membuat decak kagum terpesona.

77 WARISAN BUDAYA INDONESIA

Indonesia sebagai bangsa yang besar dan memiliki keanekaragaman suku dan budaya memiliki jutaan warisan karya kebudayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan oleh seluruh anak bangsa, seringnya budaya milik indonesia yang diklaim sebagai budaya asli negara lain.

02 November 2025

77 Warisan Budaya Indonesia

77 Warisan Budaya Indonesia

77 Warisan Budaya Indonesia
INDONESIA sebagai bangsa yang besar dan memiliki keanekaragaman suku dan budaya memiliki jutaan warisan karya kebudayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan oleh seluruh anak bangsa, seringnya budaya milik indonesia yang diklaim sebagai budaya asli negara lain, tentu sebagai anak bangsa tidak boleh tinggal diam begitu saja, karena hal tersebut harus dijaga dengan sebaik-baiknya. kali ini saya coba sharing 77 karya budaya ditetapkan sebagai warisan budaya indonesia. 

Setelah melalui verifikasi dan penilaian oleh tim ahli, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya menetapkan 77 karya budaya yang telah didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional Indonesia. 

Enam diantaranya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Indonesia yang diakui oleh UNESCO.  Berikut karya budaya yang telah ditetapkan:




1. WAYANG KULIT INDONESIA
WAYANG KULIT INDONESIA
Wayang telah diakui oleh UNESCO sebagai daftar perwakilan Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia pada tahun 2008. Wayang adalah salah satu seni pertunjukan rakyat yang masih banyak penggemarnya hingga saat ini. Pertunjukan wayang dimainkan oleh seorang dalang dengan menggerakkan tokoh-tokoh pewayangan yang dipilih sesuai dengan cerita yang dibawakan. Cerita-cerita yang dipilih bersumber pada kitab Mahabarata dan Ramayana yang bernafaskan kebudayaan dan filsafat Hindu, India, namun telah diserap ke dalam kebudayaan Indonesia. Dalam setiap pegelaran, sang dalang dibantu para swarawati atau sindhen dan para penabuh gamelan atau niyaga, sehingga pertunjukan wayang melibatkan banyak orang. Di Indonesia, Wayang telah menyebar hampir keseluruh bagian wilayah Indonesia. Jenis-jenisnya pun beragam yang  diantaranya adalah : Wayang kulit Purwa, Wayang Golek Sunda, Wayang Orang, Wayang Betawi, Wayang Bali, Wayang Banjar, Wayang Suluh, Wayang Palembang, Wayang Krucil, Wayang Thengul, Wayang Timplong, Wayang Kancil, Wayang Rumput, Wayang Cepak, Wayang Jemblung, Wayang Sasak (Lombok), dan Wayang Beber.


2. KERIS INDONESIA
KERIS INDONESIA
Keris adalah benda budaya yang eksotik dan  original. Ini merupakan ‘karya seni’ sekaligus "benda budaya" asli Nusantara. Budaya keris terbentang dari Ujung pulau Sumatra di barat, Semenanjung Siam dan Sulu di Utara, Gugusan kepulauan Maluku di Timur dan Kepulauan Nusa Tenggara di Selatan. Keris menjadi identitas pengikat yang mendorong rasa kebangsaan itu tumbuh subur di Nusantara. Pada tahun 2005, Keris Indonesia telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia .

Keris merupakan senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya memiliki pamor (serat-serat lapisan logam cerah) pada helai bilah. Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Saat ini, penggunaan keris lebih banyak sebagai ornamen pelengkap dalam berbusana adat. Sebagai produk kebudayaan, keris mengandung sejumlah nilai luhur kebudayaan pembuatnya yang disimbolkan dalam berbagai bagian keris. Selain itu, keris juga marak menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.

3. BATIK INDONESIA
BATIK INDONESIA
Pada dasarnya, batik merupakan seni lukis yang menggunakan canting sebagai alat untuk melukisnya. Canting sendiri merupakan sebuah alat berbentuk mangkok kecil yang terbuat dari tembaga dan memiliki carat atau monong, dengan tangkai dari bambu atau kayu yang dapat diisi malam (lilin) sebagai bahan untuk melukis. Canting ini dapat membuat kumpulan garis, titik atau cecek yang pada akhirnya membentuk pola-pola. Pola-pola inilah yang kemudian menjadi ragam hias dalam kesenian Batik.

Membatik telah diwariskan secara turun temurun hingga saat ini. Dengan pola tradisional ini, sejak dahulu masyarakat menuangkan imajinasi melalui gambar pada batik. Masyarakat juga telah mengenal seni pewarnaan tradisional dengan bahan-bahan alami sebelum mengenal pewarnaan dengan bahan kimia. Batik yang tersebar hampir diseluruh Indonesia memiliki bentuk ragam hias yang berbeda-beda diantara satu dan lainnya. Pada tahun 2009, Batik diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia.

4. ANGKLUNG
ANGKLUNG
Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu dan dibunyikan dengan cara digoyangkan. Alat musik ini berasal dari Tanah Sunda. Kata Angklung berasal dari Bahasa Sunda “angkleung-angkleungan” yaitu gerakan pemain Angklung dan suara “klung” yang dihasilkannya. Secara etimologis, Angklung berasal dari kata “angka” yang berarti nada dan “lung” yang berarti pecah. Jadi Angklung merujuk nada yang pecah atau nada yang tidak lengkap. Setiap angklung akan menghasilkan nada yang berbeda, sehingga setiap penampilan membutuhkan lebih dari satu angklung. Sedikitnya delapan nada dihasilkan oleh angklung. Angklung telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia pada tahun 2010.

5. TARI SAMAN GAYO DARI NAGGROE ACEH DARUSSALAM
TARI SAMAN GAYO DARI NAGGROE ACEH DARUSSALAM

Tari Saman adalah salah satu kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Gayo di Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Timur (Kecamatan Serbejadi), Kabupaten Aceh Tamiang (Tamiang Hulu). Saman merupakan permainan tradisi yang biasa dilakukan oleh laki laki yang umumnya usia muda untuk mengisi waktu luangnya. Baik pada saat di sawah, mersah, sepulang mengaji di rumah pun mereka menyempatkan diri berlatih Saman. Permainan Saman menjadi sebuah seni pertunjukan yang sering dipentaskan sebagai media silaturahmi, menjalin persahabatan, penyampaian pesan-pesan moral, pantun muda-mudi, penggambaran alam dan lingkungan sekitar, dan sebagainya. Tari Saman diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda yang membutuhkan pelindungan mendesak dari Indonesia pada tahun 2011.

6. NOKEN DARI PAPUA
NOKEN DARI PAPUA
Noken Papua adalah hasil daya cipta, rasa dan karsa yang dimiliki manusia berbudaya dan beradat. Walaupun Noken berbentuk seperti halnya tas yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan berbagai macam benda dan peralatan, namun masyarakat Papua sendiri tidak menyebut noken sebagai tas. Bagi masyarakat Papua, Noken memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan tas yang diproduksi pabrik, baik secara bahan, jenis, model maupun bentuk Noken. Pada tahun 2011 Noken Papua dinobatkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia yang membutuhkan pelindungan mendesak.


7. TENUN IKAT SUMBA - NUSA TENGGARA TIMUR
TENUN IKAT SUMBA - NUSA TENGGARA TIMUR
Kain tenun ikat adalah kain tenun yang pembuatan motifnya menggunakan teknik ikat. Teknik ikat dilakukan dengan bagian-bagian tertentu dari benang, dengan maksud agar bagian-bagian yang terikat itu tidak terwarnai ketika benang dimasukkan kedalam cairan pewarna. Bagian-bagian yang diikat telah diperhitungkan sedemikian rupa, sehingga setelah ditenun akan membetuk motif-motif yang sesuai dengan yang diinginkan. Pemerintah Indonesia sedang dalam proses mengajukan Tenun Ikat Sumba ke UNESCO untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia.

8. RENCONG DARI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
RENCONG DARI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
Rencong adalah simbol keberanian dan kegagahan ureueng Aceh. Bagi siapa saja yang memegang senjata akan merasa lebih berani di dalam menghadapi musuh. 

Pada masa sekarang, senjata ini memang sudah tidak begitu relevan untuk digunakan sebagai senjata penyerang. Namum demikian, senjata ini masih relevan sebagai sebuah simbolisasi dari keberanian, ketangguhan, dan kejantanan dari masyarakat Aceh. Untuk itu, pada beberapa upacara (seperti upacara pernikahan) rencong dipakai. Pemakaian benda ini lebih mengarah kepada simbolisasi dari keberanian dari seorang lelaki dalam memimpin keluarga setelah menikah.

9. TARI TOR-TOR, DARI SUMATERA UTARA
TARI TOR-TOR, DARI SUMATERA UTARA
Tari Tor tor merupakan tarian yang berasal dari Sumatera Utara. Tor-Tor pada awalnya bukanlah suatu tarian, tetapi sebagai pelengkap gondang (uning-uningan) yang berdasarkan kepada falsafah adat itu sendiri. Di dalam upacara-upacara adat di Mandailing dimana uning-uningan dibunyikan (margondang), selalu dilengkapi dengan acara manortor. Pada awalnya manortor hanya diadakan pada acara-acara adat margondang, namun dalam perkembangan selanjutnya manortor ini juga sudah dilakukan pada acara-acara hiburan dengan cara memodifikasi tor-tor sedemikian rupa agar lebih menarik bagi penonton yang dalam perkembangannya mengarah menjadi tarian.


10. GORDANG SAMBILAN, DARI SUMATERA UTARA
GORDANG SAMBILAN, DARI SUMATERA UTARA
Sesuai dengan namanya Gordang Sambilan terdiri dari sembilan buah gendang dengan ukuran yang relatif besar dan panjang. Adapun kesembilan gendang tersebut mempunyai ukuran yang berurutan dari yang besar ke ukuran yang paling kecil. Gordang Sambilan  dikenal pada masa sebelum Islam yang mempunyai fungsi untuk upacara memanggil roh nenek moyang apabila diperlukan pertolongannya. Upacara tersebut dinamakan paturuan Sibaso yang berarti  memanggil roh untuk merasuki/menyurupi medium Sibaso). Tujuan pemanggilan ini adalah untuk minta pertolongan roh nenek moyang untuk mengatasi kesulitan yang sedang menimpa masyarakat. Misalnya penyakit yang sedang mewabah karena adanya suatu penularan  penyakit yang menyerang suatu wilayah. Di samping itu Gordang Sambilan juga digunakan untuk upacara meminta hujan (mangido udan) agar hujan turun sehingga dapat mengatasi kekeringan yang menganggu aktivitas pertanian. Juga bertujuan untuk  menghentikan hujan yang telah berlangsung secara terus menerus yang sudah menimbulkan kerusakan .

11. RUMAH ADAT KARO DARI SUMATERA UTARA
RUMAH ADAT KARO DARI SUMATERA UTARA
Rumah adat Karo terkenal dengan nama rumah si waluh jabu  artinya “rumah yang didiami delapan keluarga”. Di dalam rumah tersebut diatur menurut ketentuan adat. Adapun delapan keluarga ini memiliki posisi yang berbeda-beda dalam menempati rumah adat. Rumah adat Karo didirikan berdasarkan arah kenjehe (hilir) dan kenjulu  (hulu) sesuai aliran sungai pada suatu kampung. 5. Randang dari Sumatera Barat    Rendang dalam bahasa Minangkabau disebut dengan randang adalah salah satu makanan tradisional khas Minangkabau yang sangat terkenal ke seantaro penjuru nusantara. Randang tersebut memiliki beberapa warna, yakni merah kecoklatan, coklat, sampai coklat kehitaman. Pengertian randang yang diambil dari kata marandang, yakni suatu proses pengolahan lauk berbahan dasar santan yang dimasak sampai kandungan airnya berkurang, bahkan sampai kering sehingga apabila disebut randang itu artinya olahan masakan yang kering tanpa mengandung air.

12. SISTEM MATRILINEAL DARI SUMATERA BARAT

SISTEM MATRILINEAL DARI SUMATERA BARAT
Sistem Matrilineal merupakan sebuah sistem yang dipegang teguh oleh masyarakat Minangkabau sampai sekarang ini. Di Minangkabau terkenal dengan garis keturunan matrilineal. 

Biasanya wanita-wanitanya yang memiliki rumah dan sawah. Rumah tangga-rumah tangga dikelompokkan menjadi clan yang didasarkan pada garis keturunan wanita. Setiap anak wanita mendapat warisan dari ibunya dengan memperoleh bagian yang sama besarnya dari sawah milik ibunya. 7. Rumah Gadang dari Sumatera Barat.


13. RUMAH GADANG DARI SUMATERA BARAT
RUMAH GADANG DARI SUMATERA BARAT
Rumah Gadang adalah rumah adat Minangkabau yang dibangun di atas tiang-tiang tinggi dan bersendikan batu. 

Secara bahasa, Rumah Gadang berarti Rumah Besar. Rumah ini memang ada yang besar, dengan jumah kamar sampai sembilan, sebelas bahkan lebih, sesuai kemampuan ekonomi kaum yang membangun dan jumlah perempuan yang menghuninya. 

Makna “gadang” atau “besar” Rumah Gadang lebih mengacu ke fungsinya.


14. AKSARA KA-GA-NGA DARI BENGKULU
AKSARA KA-GA-NGA DARI BENGKULU
Aksara Kaganga merupakan sebuah nama kumpulan beberapa aksara yang
berkerabat di Sumatra sebelah selatan. Aksara-aksara yang termasuk
kelompok ini adalah antara lain aksara Rejang, Lampung, Rencong, dan
lain-lain.

Nama kaganga ini merujuk pada tiga aksara pertama yang mengingatkan kita kepada urutan aksara di India.

Istilah kaganga diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), antropolog di University of Hull (Inggris) dalam buku Folk literature of South Sumatra. Redjang Ka-Ga-Nga texts. Canberra, The Australian National University 1964. Istilah asli yang digunakan oleh masyarakat di Sumatra sebelah selatan adalah Surat Ulu.

Aksara Batak atau Surat Batak juga berkerabat dengan kelompok Surat Ulu akan tetapi urutannya berbeda. Diperkirakan zaman dahulu di seluruh pulau Sumatra dari Aceh di ujung utara sampai Lampung di ujung selatan, menggunakan aksara yang berkerabat dengan kelompok aksara Kaganga (Surat Ulu) ini. Tetapi di Aceh dan di daerah Sumatera Tengah (Minangkabau dan Riau), yang dipergunakan sejak lama adalah huruf Jawi. Perbedaan utama antara aksara Surat Ulu dengan aksara Jawa ialah bahwa aksara Surat Ulu tidak memiliki pasangan sehingga jauh lebih sederhana daripada aksara Jawa, dan sangat mudah untuk dipelajari .

Aksara Surat Ulu diperkirakan berkembang dari aksara Pallawa dan aksara Kawi yang digunakan oleh kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan. Di Bengkulu sendiria, aksara asli dari provinsi ini pun dikenal dengan KA-GA-NGA. Aksara Ka-Ga-Nga merupakan turunan dari aksara Palawa dan berbentuk garis siku-siku serta sangat kaku.Pada zaman dahulu,  aksara Ka-Ga-Nga ini ditulis pada media bambu, bilah bambu, batu, kulit, kayu, rotan, bilah rotan, serta tanduk. Masyarakat menggunakannya untuk menuliskan doa-doa, mantera, teknik bercocok tanam, pengumuman, cerita rakyat, sejarah, informasi, yang dikirimkan secara pribadi atau masyarakat luas.

Di Museum Negeri Bengkulu sendiri banyak ditemukan potongan naskah penggunaan aksara Ka-Ga-Nga pada masyarakat zaman dahulu, yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Provinsi Bengkulu. Saat ini budaya tulisan Ka-Ga-Nga kembali dimunculkan ke masyarakat salah satunya adalah dengan menambahkan symbol – simbol tulisan dan huruf tersebut pada motif batik atau yang lainnya. Selain itu anak sekolah kini juga mulai diperkenalkan dengan aksara Ka-Ga-Nga pada mata pelajaran Muatan Lokal.

Dalam perspektif sejarah, secara umum kita mengenal aksara daerah di Indonesia pada dasarnya berasal dari India, termasuk diantaranya aksara Ka Ga Nga. Penyebaran aksara Ka Ga Nga banyak terdapat di daerah Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung.


15. DUL-MULUK DARI SUMATERA SELATAN
DUL-MULUK DARI SUMATERA SELATAN
Dulmuluk berawal dari kitab Kejayaan Kerajaan Melayu yang selesai ditulis pada 2 juli 1845, yang berjudul Syair Abdul Muluk. Teater Dulmuluk adalah teater tradisional Sumatera Selatan yang lahir di Kota palembang. 

Awal mula terbentuknya teater ini adalah berupa pembacaan syair oleh Wan Bakar yang membacakan tentang syair Abdul Muluk disekitar rumahnya di Tangga Takat 16 Ulu pada tahun 1854. Agar lebih menarik pembacaan syair kemudian disertai dengan peragaan oleh beberapa orang ditambah iringan musik gambus dan terbangan.

16. SONGKET PALEMBANG DARI SUMATERA SELATAN
SONGKET PALEMBANG DARI SUMATERA SELATAN
Songket Palembang sudah ada sejak zaman Kesultanan Palembang. Songket telah ada di Palembang sejak ratusan tahun silam dan diyakini sejak zaman Sriwijaya. 

Pada waktu itu kerajinan songket merupakan suatu usaha sambilan bagi penduduk asli Palembang. Songket telah ada bersamaan munculnya Kesultanan Palembang Darussalam (1659-1823).

Berdasarkan catatan sejarah yang berhak dan pantas memakai songket pada waktu itu adalah raja atau sultan dan kerabat keraton. Songket yang dipakai oleh para sultan di Palembang merupakan pelengkap pakaian kebesaran.


17. TARI MAKYONG DARI KEPULAUAN RIAU
TARI MAKYONG DARI KEPULAUAN RIAU
Di daerah Kepulauan Riau, tradisi lisan Mak Yong telah dipertunjukkan sejak beberapa abad yang lalu dan menyebar sampai ke Bangka, Johor, Malaka, dan Pulau Pinang. Di Kepulauan Riau, Tradisi lisan ini berkembang pesat pada masa pemerintahan Kesultanan Riau (1722-1911). 

Seni pertunjukan teater Makyong dimainkan dengan tarian, nyanyian, dan lawakan yang terjalin dalam suatu alur cerita. Pemainnya 20 orang, yang pria bertopeng sedangkan yang wanita mengenakan kostum gemerlap.


18. KRINOK DARI JAMBI
KRINOK DARI JAMBI
Krinok merupakan salah satu seni vokal tradisi yang dimiliki masyarakat Melayu di Kecamatan Rantau Pandan Kabupaten Muara Bungo. 

Seniman krinok mengatakan krinok adalah kesenian tertua yang telah ada sejak masa pra sejarah dan masih dapat dijumpai hingga saat ini. Ja’far Rassuh menduga cikal bakal krinok sebagai sebuah seni suara telah ada jauh sebelum masuknya agama Budha ke wilayah Jambi. Pada masa itu seni vokal digunakan untuk pembacaan mantra atau do’a tertentu, inilah yang kemudian berkembang menjadi kesenian krinok.

19. DAMBUS DARI BANGKA BELITUNG
DAMBUS DARI BANGKA BELITUNG
Bangka Belitung sebagai salah satu daerah rumpun melayu di Indonesia memiliki kesenian dan kebudayaan yang masih kental dengan adat melayu dan terikat dengan unsur keagamaannya. Kesenian Dambus adalah salah satu contoh kesenian khas Bangka Belitung yang masih popular hingga saat ini. 

Dinamakan seni dambus karena kesenian ini terdiri dari alat musik, lagu dambus itu sendiri serta tariannya. Alat musik dambus merupakan alat musik tradisional khas Bangka Belitung yang memiliki bentuk mirip dengan gitar. Alat musik ini terdiri dari kepala yang berbentuk kepala rusa, senar dan juga badan dambusnya. Sesungguhnya alat musik dambus sudah ada sejak zaman dahulu kala dalam adat melayu, namun seiring berjalannya waktu, Bangka Belitung memiliki ciri khas tersendiri untuk alat musik dambusnya. Lantunan nada yang dihasilkan dari petikan senarnya begitu pas dengan irama musik melayu.

Dambus merupakan musik yang telah berusia ratusan tahun dan masih bertahan di Bangka Belitung. Gambus berkembang sejak abad ke-19 bersama dengan kedatangan para imigran Arab dari Hadramaut, Yaman Selatan ke Nusantara.  Dengan menggunakan syair-syair kasidah, gambus mengajak masyarakat mendekatkan diri pada Allah dan mengikuti teladan Rasul-Nya. Oleh karenanya, gambus digunakan para imigran menjadi sarana dakwah di nusantara. Langkah ini kemudian diteruskan oleh para ulama untuk berdakwah Islam.

20. TENUN SIAK RIAU
TENUN SIAK RIAU
Semasa dahulu pekerjaan menenun hanya dikenal di lingkungan istana saja sebagai pekerjaan sambilan. Namun sesuai dengan perkembangan zaman, pekerjaan menenun merembes keluar tembok istana.

Kerajinan tangan yang sangat terkenal dari Siak sejak dahulu adalah kerajinan industri rumah yaitu kerajinan tenun, yang dinamakan kain Tenun Siak. Semasa dahulu pekerjaan menenun hanya dikenal dilingkungan Istana saja sebagai pekerjaan sambilan. Namun sesuai dengan perkembangan zaman, pekerjaan menenun merembes keluar tembok Istana.

Perkembangan Tenun Siak bermula ketika Siak diperintah Sultan Said Syarif Ali, sekitar tahun 1800, ketika usaha kerajinan tenun ini mulai dikenal luas. Pada masa lalu ada seorang bernama Encik Siti binti E. Wan Karim yang berasal dari Trengganu, yang tenunannya menggunakan benang sutera, katun dan emas. Tenunan itu sangat disenangi oleh kalangan istana. Ia mengembangkan motif tradisional dan ciptaan baru sehingga dikenal dan disukai kembali setelah agak terlupakan. Hingga kini, penenun Siak dianggap lebih teguh mengembangkan corak asli Melayu, yaitu pucuk rebung, awan larat, bunga cengkih, tampuk manggis, semut beriring, siku keluang, dan itik pulang petang.


21. GAZAL DARI KEPULAUAN RIAU
GAZAL DARI KEPULAUAN RIAU
Ghazal adalah semacam musik orkestra tradisi Melayu yang berkembang di Kepulauan Riau. Asal Ghazalini dapat ditelusuri dari irama padang pasir atau Timur Tengah yang menyebar ke Johor Malaysia dan kemudian terus menyebar dan berkembang di Kepulauan Riau yaitu; Penyengat, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Batu, dan Batam.

Kesenian musik ghazal ini mulai dikenal dan dikembangkan sejak zaman Kerajaan Melayu dan pada wakt itu tampil musik ghazal ini untuk mengisi acara-acara Permbesar Kerajaan. Pendiri pertama musik ghazal ini adalah Bapak Haji Kenal Muse atau yang lebih dikenal dengan nama Pak Lomak yang berasal dari Johor Baru.

22. GURINDAM 12 DARI KEPULAUAN RIAU
GURINDAM 12 DARI KEPULAUAN RIAU
Gurindam 12 Karya Pahlawan Kepri Terdaftar Kekayaan Intelektual Komunal. Gurindam 12, puisi Melayu lama karya Raja Ali Haji, seorang sastrawan dan Pahlawan Nasional dari Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terdaftar sebagai kekayaan intelektual komunal di Kemenkumham RI.

Kumpulan Gurindam Duabelas dikarang oleh Raja Ali Haji dari Riau.  Dinamakan Gurindam Dua Belas oleh karena berisi 12 pasal, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat. Selain itu juga terdapat pelajaran dasar ilmu tasawuf tentang mengenal yang empat, yakni syari'at, tarekat, hakikat, dan makrifat.

23. TABOT DARI BENGKULU DAN TABUIK DARI SUMATERA BARAT

TABOT DARI BENGKULU DAN TABUIK DARI SUMATERA BARAT

Berasal dari kata "tabut", dari bahasa Arab yang berarti mengarak. Upacara Tabot / Tabuik merupakan sebuah tradisi masyarakat di Bengkulu dan di pantai barat, Sumatera Barat, yang diselenggarakan secara turun menurun. Upacara ini digelar di hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, dalam kalender Islam untuk memperingati kematian cucu Nabi Muhammad, Husein.






24. MUANG JONG ATAU BUANG JONG DARI BANGKA BELITUNG

Muang Jong dari Bangka Belitung
Buang Jong merupakan salah satu upacara tradisional yang secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat suku Sawang di Pulau Belitung. Suku Sawang adalah suku pelaut yang dulunya, selama ratusan tahun, menetap di lautan. 

Muang Jong sendiri memiliki arti melepaskan perahu kecil ke laut. Perahu kecil tersebut berbentuk kerangka yang didalamnya berisikan sesajian. “Ancak” yaitu rumah-rumahan juga berbentuk kerangka yang melambangkan tempat tinggal. Tradisi budaya ini secara turun-temurun dilakukan setiap tahun oleh masyarakat Suku Sawang di Kabupaten Belitung menjelang musim Tenggara, sekitar bulan Agustus atau September. Dimana angin dan ombak laut pada bulan tersebut sangat ganas dan mengerikan. Ritual Muang Jong dengan bertujuan memohon perlindungan agar terhindar dari bencana yang akan menimpa, terutama di laut.


25. KAIN TAPIS DARI BANDAR LAMPUNG

Kain Tapis dari Bandar Lampung
Awal mula kain tapis dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, misalnya saja adanya motif kapal, kapal digambarkan sebagai wahana atau kendaraan roh dalam perjalanan menuju alam setelah meninggal (alam baka). Serta dikaitkan dengan bentuk pemujaan terhadap tokoh leluhur atau nenek moyang. 

Selanjutnya penggunaan kain tapis dalam perkembangannya dimanfaatkan pada acara-acara adat sepanjang lingkaran hidup yang terkait dengan ritual keagamaan. Ritual tersebut adalah sarana untuk menghubungkan manusia dengan alam roh. Penggunaan kain tapis sangat erat kaitannya dengan penggunaan secara praktis dan fungsi simbolis yang kemudian diberi makna ritual. Muatan simbol pada kain tapis adalah sebagai penghubung dari berbagai makna pelaksanaan upacara adat di sepanjang lingkaran hidup manusia.


26. ONDEL ONDEL DARI DKI JAKARTA

ONDEL ONDEL DARI DKI JAKARTA
Ondel-ondel adalah pertunjukan rakyat yang sudah berabad-abad terdapat di Jakarta dan sekitarnya, yang dewasa ini menjadi wilayah Betawi. 

Ondel-ondel tergolong salah satu bentuk teater tanpa tutur, karena pada mulanya dijadikan personifikasi leluhur atau nenek moyang, pelindung keselamatan kampung dan seisinya. 

Dengan demikian dapat dianggap sebagai pembawa lakon atau cerita, sebagaimana halnya dengan “bekakak” dalam upacara “potong bekakak” digunung gamping disebelah selatan kota Yogyakarta, yang diselenggarakan pada bulan sapar setiap tahun.


27. TOPENG DAN LENONG DARI DKI JAKARTA

Topeng dan Lenong dari DKI Jakarta
Lenong adalah seni teater rakyat atau pertunjukan rakyat dari Betawi. Lenong biasa dilengkapi dengan dekor yang disesuaikan dengan babak cerita. Pertunjukan dimulai dengan musik gambang kromong dengan lagu-lagu khas betawi seperti jali-jali, Persi, Stambul, Cente Manis, Balok, dan lain sebagainya. Cerita lakon biasanya berkisar tentang kerajaan. Seni lenong biasa disebut juga dengan Lenong Denes dan Lenong Preman. Lenong Denes biasanya menyajian cerita kerajaan (bangsawan) yang bajunya mewah, perabot mewah. Sedangkan lenong preman berkisar kehidupan sehari-hari yang mengisahkan jagoan, tuan tanah, drama rumah tanggal, dan sebagaianya.


28. PANTUN BETAWI DARI DKI JAKARTA

PANTUN BETAWI DARI DKI JAKARTA
Cerita Pantun adalah cerita legenda yang mengandung unsur kesejarahan yang kebanyakan berisi berbagai rangkaian peristiwa atau petualangan para bangsawan dalam perebutan kekayaan dan wanita yang pada akhirnya, bila mereka menghadapi kesulitan yang luar biasa, selalu diselesaikan dengan pertolongan daya supernatural.

Penyelenggaraan pertunjukan biasanya semalam suntuk dari puku 21.00 sampai pukul 05.00 dini hari kecuali untuk khitanan, yang biasa diadakan pada pagi hari. Sekitar tengah malam ada adegan-adegan humor. Pada acara ruatan ada dua buah cerita yang disajikan yaitu antara pukul 21.00 sampai 03.00 berupa cerita hiburan, dan sisanya cerita Batara Kala. Adapun tempat pertunjukan biasanya d dalam rumah.





29. TARI RONGGENG GUNUNG DARI JAWA BARAT

TARI RONGGENG GUNUNG DARI JAWA BARAT
Ronggeng gunung adalah salah satu jenis kesenian tradisional yang terdapat di Kabupaten Ciamis tepatnya berasal dari Kecamatan Banjarsari. 

Dari namanya, ronggeng gunung menunjukkan kesenian dengan peran utamanya ronggeng atau penari perempuan. Kesenian tersebut muncul dan berkembang di wilayah pegunungan. Sebagai tarian rakyat, ronggeng gunung memilki daya tarik tersendiri bagi penontonnya. 

Meskipun kini berkembang sebagai kegiatan hiburan, keberadaannya masih pada posisi statis di antara perkembangan kesenian lain. Padahal, ronggeng gunung merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Ciamis.


30. SISINGAAN DARI JAWA BARAT

SISINGAAN DARI JAWA BARAT
Lahirnya kesenian Sisingaan terkait erat dengan situasi sosial politik pada masa kolonial, yaitu ketika  wilayah Subang dijajah dan diduduki oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan selanjutnya ketika wilayah Subang menjadi daerah perkebunan yang dikuasai secara bergantian oleh para penguasa tuan tanah berbangsa Belanda dan Inggris. 

Kesenian sisingaan ini dipersepsikan oleh banyak kalangan sebagai suatu bentuk kesenian yang mengekspresikan perlawanan dan pemberontakan, serta rasa ketidakpuasan terhadap penguasa (tuan tanah dan pemerintah Hindia Belanda).


31. SENJATA KUJANG DARI JAWA BARAT DAN BANTEN

SENJATA KUJANG DARI JAWA BARAT DAN BANTEN
Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). 

Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

32. KESENIAN DEBUS DARI BANTEN

KESENIAN DEBUS DARI BANTEN
Kesenian Debus di Banten pada awalnya berfungsi untuk menyebarkan ajaran Islam. Namun, pada masa penjajahan Belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa, seni ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten untuk melawan Belanda. 

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini hanya berfungsi sebagai sarana hiburan semata. Kesenian yang disebut sebagai debus ini ada hubungannya dengan tarikat Rifaiah yang dibawa oleh Nurrudin Ar-Raniry ke Aceh pada abad ke-16. Para pengikut tarikat ini ketika sedang dalam kondisi epiphany (kegembiraan yang tak terhingga karena “bertatap muka” dengan Tuhan), kerap menghantamkan berbagai benda tajam ke tubuh mereka. Filosofi yang mereka gunakan adalah “lau haula walla Quwata ilabillahil ‘aliyyil adhim” atau tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Jadi, kalau Allah mengizinkan, maka pisau, golok, parang atau peluru sekalipun tidak akan melukai mereka.


33. CALUNG DARI BANYUMAS

CALUNG DARI BANYUMAS
Pada masa awal penyebaran Islam, seni calung sering dipadu dengan lengger (le = thole = sebutan untuk anak laki-laki, dan ngger = angger = sebutan untuk anak perempuan). Seni calung digunakan sebagai alat untuk memanggil atau mengumpulkan anak-anak untuk diberikan pengetahuan baru yaitu tentang ajaran Islam. 

Seni calung berkembang di wilayah Banyumas. Wilayah Banyumas adalah wilayah budaya kulonan yang memiliki karakteristik cenderung apa adanya (blaka suta), lugu dan aksen ngapak. Ciri khas ini tercermin pada syair-syair lagu yang dipadu dengan irama musik calung serta senggakan-senggakan yang terkesan vulgar.


34. GERABAH KASONGAN DARI YOGYAKARTA

GERABAH KASONGAN DARI YOGYAKARTA
Gerabah Kasongan merupakan kerajinan asli dari Yogyakarta. Hasil kerajinan gerabah Kasongan pada umumnya adalah alat-alat keperluan dapur, guci, pot /vas, patung loro blonyo, air mancur, wuwung, dan produk-produk keramik lainnya. Khusus untuk guci, dapat ditemukan banyak bentuk & varian guci di Kasongan. Guci merupakan salah satu jenis keramik yang kerap diburu para wisatawan. Selain karena ukurannya yang beragam, mulai dari setinggi dua jengkal tangan hingga seukuran bahu orang dewasa, guci di Kasongan juga memiliki banyak varian finishing. Dilihat dari perkembangannya, finishing guci yang banyak ditemui di Kasongan adalah finishing alami, yang hanya menggunakan cat sebagai media ‘sentuhan akhir’ dari guci tersebut.


35. REOG DARI PONOROGO, JAWA TIMUR

REOG DARI PONOROGO, JAWA TIMUR
Sejarah lahirnya kesenian ini pada saat Raja Brawijaya ke-5 bertahta di Kerajaan Majapahit. Untuk menyindir sang raja yang amat dipengaruhi oleh permaisurinya ini, dibuatlah barongan yang ditunggangi burung merak oleh Ki Ageng Tutu Suryo. Lebih lanjut cerita rakyat yang bersumber dari Babad Jawa menyatakan pada jaman kekuasaan Betoro Katong, penambing yang bernama Ki Ageng Mirah menilai kesenian barongan perlu dilestarikan.

Ki Ageng Mirah lalu membuat cerita legendaris tentang terciptanya Kerajaan Bantar Angin dengan rajanya Kelono Suwandono. Kesenian Reyog ini pertama bernama Singa Barong atau Singa Besar mulai ada pada sekitar tahun saka 900 dan berhubungan dengan kehidupan pengikut agama Hindu Siwa. Masuknya Raden Patah untuk mengembangkan agama Islam disekitar Gunung Wilis termasuk Ponorogo, berpengaruh pada kesenian Reyog ini. Yang lalu beradaptasi dengan adanya Kelono Suwandono dan senjata Pecut Samagini.


36. KARAPAN SAPI DARI MADURA, JAWA TIMUR
KARAPAN SAPI DARI MADURA, JAWA TIMUR

Karapan sapi merupakan salah satu jenis kesenian/olahraga/permainan tradisional yang selalu dilakukan oleh masyarakat P. Madura, Jawa Timur. Kerapan atau karapan sapi adalah satu istilah dalam bahasa Madura yang digunakan untuk menamakan suatu perlombaan pacuan sapi. 

Ada dua versi mengenai asal usul nama kerapan. Versi pertama mengatakan bahwa istilah “kerapan” berasal dari kata “kerap” atau “kirap” yang artinya “berangkat dan dilepas secara bersama-sama atau berbondong-bondong”. 

Sedangkan, versi yang lain menyebutkan bahwa kata “kerapan” berasal dari bahasa Arab “kirabah” yang berarti “persahabatan”.



37. SAPI SONOK DARI MADURA, JAWA TIMUR

SAPI SONOK DARI MADURA, JAWA TIMUR
Kontes Sapi Sonok merupakan seni pertunjukan masyarakat Madura dalam rangka menghargai dan menghormati hewan sapi. 

Kegiatan ini selalu digelar setiap tahun secara bergiliran di 4 kota kabupaten Madura (Bangkalan, Sampang, Dan Sumenep). 

Kontes sapi Sonok dilaksanakan bersamaan dengan Karapan Sapi. Dalam kontes ini, sepasang Sapi Sonok dinilai berdasarkan kriteria tertentu yang meliputi kecantikan, keserasian, serta kesehatannya.


38. TARI GANDRUNG DARI BANYUWANGI, JAWA TIMUR

TARI GANDRUNG DARI BANYUWANGI, JAWA TIMUR
Tari Gandrung berasal dari kata “gandrung”, yang berarti ‘tergila-gila’ atau ‘cinta habis-habisan’ dalam bahasa Jawa

Kesenian ini masih satu genre dengan seperti ketuk tilu di Jawa Barat, tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, lengger di wilayah Banyumas dan joged bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan). 



39. TARI KENTRUNG DARI JAWA TIMUR

TARI KENTRUNG DARI JAWA TIMURSeni kentrung yang berkembang abad 16 adalah salah satu bentuk kesenian yang amat kental dengan dua dimensi yaitu dimensi estetik dan istetis yang menjadi unsur utama dalam konstrusi utama kesenian itu sendiri. 

Alat musik ini terdiri dari kendang rebana, kentrung dan jidur. Sebuah grup terdiri dari 3-7 penabuh dan 1 dalang pembaca patokan Jawa yang berkaitan dengan lakon yang dipentaskan.




40. MAKEPUNG DARI BALI

MAKEPUNG DARI BALI
Makepung adalah atraksi balapan kerbau berasal dari Kabupaten Jembrana, Bali. 

Kata Makepung berasal dari kata makepung-kepungan (bahasa Bali) artinya berkejar-kejaran, inspirasinya muncul dari kegiatan tahapan proses pengolahan tanah sawah yaitu tahap melumatkan tanah menjadi lumpur dengan memakai lampit

Lampit ditarik oleh dua ekor kerbau dan sebagai alat penghias kerbau, maka pada leher kerbau tersebut dikalungi gerondongan (gongseng besar) sehingga apabila kerbau tersebut berjalan menarik  lampit maka akan kedengaran bunyi seperti alunan musik.


41. KAIN BIDAI DARI KALIMANTAN

KAIN BIDAI DARI KALIMANTAN
Bidai, bide, atau kasah bide merupakan hasil seni kriya tradisional masyarakat Bidayuh yang berbentuk lembaran anyaman, dan terbuat dari kulit kayu dan rotan. 

Pada masa lalu bidai atau kassah bide banyak digunakan untuk menjemur hasil panen berupa padi-padian atau palawija, dan juga digunakan untuk perlengkapan rumah. Baik untuk alas tidur atau fungsi lainnya yang sejenis. Karena bahan bakunya yang terbuat dari rotan kecil yang dan kulit kayu, bidai atau kassah bide’ ini memiliki bentuk anyaman yang khas alam serta kuat atau tahan lama. Sekalipun itu pernah atau sering terendam air dan terkena panas matahari langsung.

42. KAIN SONGKET SAMBAS DARI KALIMANTAN BARAT

KAIN SONGKET SAMBAS DARI KALIMANTAN BARAT
Songket Sambas adalaha salah satu seni kerajinan tekstil tenun khas Kalimantan Barat. Motif-motif yang dipakai pada saat ini tidak diketahui siapa yang menciptakannya dan itu motif-motif itu terus berkembang sesuai dengan kemampuan dari perajin tersebut. 
Motif yang tergambar dalam tenunan ini biasanya berkaitan dengan alam dan lingkungan hidup.  Adapun motif yang banyak dipakai antara lain; pucuk rebung, tabur awan berarak, serong bunga mawar terputus, tabur melati setangkai dan masih banyak yang lainnya.


43. RUMAH PANJANG DAYAK  (LAMIN, BETANG, DAN  RADAAKNG, UMA DADOQ) DARI KALIMANTAN BARAT, KALIMANTAN TIMUR, KALIMANTAN UTARA, KALIMANTAN SELATAN DAN KALIMANTAN TENGAH

Rumah Panjang Dayak dari Kalimantan
Rumah tradisional masyarakat Dayak. Lamin merupakan bangunan yang berdiri di atas tiang-tiang penyangga berupa kayu bulat atau balok. Konstruksi tiang penyangga ini membentuk kolong dan merupakan penyangga atau pendukung lantai dan atap. 

Bentuk dasar bangunan empat persegi panjang, bentuk dasar atap berupa prisma dengan konstruksi atap pelana. Bagian depan lamin dapat di tambah dengan  serambi yang memanjang mengikuti bentuk bangunan.

44. KARUNGUT DARI KALIMANTAN TENGAH DAN KALIMANTAN SELATAN

KARUNGUT DARI KALIMANTAN TENGAH DAN KALIMANTAN SELATAN
Puisi tradisional suku Dayak Ngaju. Karungut berasal dari kata karunya yang diambil dari bahasa Sangiang dan bahasa Sangen/Ngaju Kuno. ‘Karunya’ berarti tembang. Puisi tradisional atau puisi rakyat yang dikenal di Kalimantan Tengah ini diwariskan oleh nenek moyang mereka dalam bentuk lagu dan syair yang disusun sendiri oleh penciptanya, sepanjang tidak menyimpang dari kaidah yang telah dianggap baku. 

Di awal perkembangannya, bahasa yang digunakan dalam karungut adalah bahasa Sangen (Ngaju Kuno), tapi kini sangat jarang dipergunakan lagi. Dahulu salah satu fungsi karungut adalah sebagai media pengajaran. Karena seorang balian (guru atau dukun) menyampaikan pengajaran kepada para muridnya dengan mengarungut. Sementara para muridnya menjawab atau melaksanakan perintah dari gurunya dengan mengarungut pula.


45. KAIN SASIRANGAN DARI KALIMANTAN SELATAN

KAIN SASIRANGAN DARI KALIMANTAN SELATAN
Kain sasirangan merupakan kain batik yang terdapat di kalimantan selatan. Proses pembuatannya sudah dilakukan secara modern. Bahan yang digunakan untuk membuat kain sasirangan pada awalnya berasal dari serat kapas atau katun.

Dalam perkembangannya, bahan baku ini berkembang bukan saja dari  kapas, melainkan juga dari bahan non kapas. Tetapi yang jelas bahan bakunya berasal dari bahan baku berupa kain. Adapun jenis-jenis kain yang dijadikan bahan baku tersebut pada dasarnya  hanya terdiri dari tiga jenis saja yaitu kain sutera, kain saten atau sating dan kain katun. Pengertian kain Sasirangan itu sendiri secara umum adalah sejenis kain  yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur, kemudian diikat dengan benang atau tali raffia dan selanjutnya dicelup.


46.  ULAP DOYO DARI KALIMANTAN TIMUR

ULAP DOYO DARI KALIMANTAN TIMUR
Seni kerajinan tekstil masyarakat Dayak Benuaq. Bahan utama untuk menenun adalah benang doyo, yang berasal dari serat daun ulap doyo (Curcoligo latifolia lend.) yang berbentuk lebar. Jenis tumbuhan ini banyak tumbuh di dataran yang berpasir, di antara semak dan ilalang, dan tumbuh dekat rawa. Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. Dahulu bahan ini dipergunakan mengingat benang dari kapas masih susah ditemukan. Konon, pohon Doyo ini hanya boleh ditanam oleh perempuan, serta tabu atau pantang dikerjakan oleh lelaki. Dengan teknik tertentu daun ini  dipintal hingga berbentuk benang yang kuat untuk ditenun.


47. BELIAN BAWO DARI KALIMANTAN TIMUR

BELIAN BAWO DARI KALIMANTAN TIMUR
Belian bawo adalah Tradisi ritual pengobatan alternatif orang sakit. Upacara belian bawo berkaitan dengan alam kepercayaan Suku Dayak Benuaq, yang didasari keyakinan religiusitasnya. Oleh karena itu upacara belian bawo sarat dengan fungsi spiritual (religius). 

Kepercayaan ini yang merupakan motor penggerak seluruh sendi kehidupan masyarakat Suku Dayak Benuaq yang di antaranya terwujud dalam penghormatan arwah nenek moyang, kepercayaan akan adanya kekuatan-kekuatan gaib, dan makhluk-makhluk halus. Perasaan ini mendorong mereka untuk selalu berusaha menyenangkan hati roh leluhur dan makhluk halus yang melingkupi kehidupan mereka, karena hal-hal itu diyakini sebagai sumber malapetaka dan pertolongan.

48. HUDOQ DARI KALIMANTAN TIMUR

TARI HUDOQ DARI KALIMANTAN TIMUR
Hudoq adalah tarian tradisional suku Dayak Modang yang terdapat di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tari Hudoq merupakan tarian sakral yang erat kaitannya dengan prosesi ritual atau upacara adat. 

Saat menari, para penari Hudoq menggunakan topeng menyerupai binatang buas dan terbuat dari kayu. Tubuh mereka ditutupi dengan daun pisang, daun kelapa, atau daun pinang. 

Masing-masing penari itu memerankan karakter tokoh-tokoh hudoq (gambaran dewa yang memiliki kekuatan gaib). Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Kalimantan Timur.


49. TARI MAENGKET DARI SULAWESI UTARA

TARI MAENGKET DARI SULAWESI UTARA
Tari tradisional masyarakat Minahasa. Tarian ini dilakukan oleh sekelompok orang yang menyanyi sambil menari bahkan saling berpegangan tangan dan di pimpin oleh seseorang (Kapel) yang akan mengangkat  suara/lagu pertama (Tumutuur)  serta tambur sebagai alat pengiringnya. Kegiatan dimaksud berkaitan upacara dengan tujuan menerangi,membuka jalan dan mempersatukan masyarakat pendukungnya. Hal ini dilakukan dalam situasi kegiatan panen padi (Maowey/Makamberu), selamatan rumah baru (Marambak) dan pergaulan muda mudi (Lalaya’an). Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Utara.


50. MANE’E DARI SULAWESI UTARA

MANE’E DARI SULAWESI UTARA
Mane’e merupakan kegiatan menangkap ikan dengan janur (Samih) yang dilakukan oleh masyarakat Kakorotan. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada kabupaten Kep. Talaud (Perbatasan Filipina) provinsi Sulawesi Utara. Mane’e atau penangkapan ikan bersama bagi masyarakat kepulauan Talaud telah berlangsung sejak lama. Menurut penuturan masyarakat, dimulai sekitar abad ke-16. Kebiasaan ini dilakukan pada setiap tahun  biasanya jatuh pada bulan Mei atau Juni dan telah  berlangsung sejak dahulu sampai saat ini, sehingga pemerintah kabupaten berupaya mengangkat tradisi ini menjadi salah satu objek wisata. Lokasi “Mane’e” yang dipilih dan ditetapkan oleh pemerintah daerah terdapat di desa Kakorotan.


51. MUSIK KOLINTANG DARI SULAWESI UTARA

MUSIK KOLINTANG DARI SULAWESI UTARA
Kolintang adalah alat musik khas dari Minahasa (Sulawesi Utara) yang mempunyai bahan dasar kayu, jika dipukul dapat mengeluarkan bunyi yang cukup panjang dan dapat mencapai nada-nada tinggi maupun rendah, seperti kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya (jenis kayu yang agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya tersusun sedemikian rupa membentuk garis-garis sejajar). Kata Kolintang berasal dari bunyi: Tong (nada rendah), Ting (nada tinggi) dan Tang (nada tengah). Dahulu dalam bahasa daerah Minahasa untuk mengajak orang bermain Kolintang “mari kita ber-Tong, Ting, Tang” dengan ungkapan “Maimo Kumolintang” dan dari kebiasaan itulah muncul Kolintang.


52. SAIYYANG PATU’DUQ DARI SULAWESI BARAT

SAIYYANG PATU’DUQ DARI SULAWESI BARAT
Saiyyang Pattu’duq adalah tradisi ritual mengarak menggunakan kuda. Saiyyang Pattuqduq (bahasa Mandar, saiyyang artinya kuda, pattuqduq artinya penari); saiyyang pattuqduq artinya kuda yang pandai menari, pandai memainkan gerakan kepala dan gerakan kaki. 

Saiyyang pattuqduq digunakan dalam: a) tunggangan anak yang khatam Al Qur’an saat diarak keliling kampong, umumnya dilaksanakan pada peringatan mauled Nabi Muhammad saw, b) tunggangan tamu (penjemputan) tamu kehormatan, c) tunggangan karena adanya nadzar, dan d) sekedar hiburan atau pertunjukan. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Barat.

53. TARI RAIGO DARI SULAWESI TENGAH

TARI RAIGO DARI SULAWESI TENGAH
Tarian Raigo merupakan kesenian yang turun-temurun yang digiatkan melalui suatu upacara adat yang dimaksudkan sebagai pernyataan kesyukuran atas pencapaian suatu hasil usaha seperti bercocoktanam terutama menanam padi. 

Tarian ini bukan hanya semata-matasebuah bentuk kesenian (hiburan) namun tarian ini tidakdapat terlepas dari beberapa pelaksanaan upacara adat diwilayah Kulawi atau pun di lembah Bada. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Tengah.


54. KALOSARA DARI SULAWESI TENGGARA

KALOSARA DARI SULAWESI TENGGARA
Kalo atau kalosara merupakan sebuah benda yang terbuat dari tiga utas rotan yang dipilin atau dililit membentuk sebuah lingkaran.  Cara memilinnya adalah berlawanan dengan arah jarum jam atau dipilin kea rah kiri.  Ujung lilitannya tiga utas rotan ini kemudian disimpul dan diikat dimana dua ujung rotan disembunyikan dalam lilitan sedangkan satu ujung yang lainnya dibiarkan mencuat keluar.

Lilitan atau pilinan tiga utas rotan merupakan symbol yang memiliki makna persatuan dan kesatuan dari tiga stratifikasi orang Tolaki di jaman dahulu yakni : anakia atau golongan bangsawan, towonua/ penduduk asli, toono motuo/ orang-orang yang dituakan didalam suatu kampong, toono dadio/ orang kebanyakan, dan stratifikasi yang ketiga yakni o’ata atau golongan budak. 

Sebagai simbol hukum adat pada orang Tolaki yang dipercaya telah diwariskan secara turun temurun, maka Kalosara ditemukan dalam berbagai aturan hukum adat itu sendiri yakni dalam bidang-bidang : hukum di bidang pemerintahan yang saat ini khususnya dalam pemerintahan yang melibatkan tokoh-tokoh adat, hukum di bidang pertanahan, hukum di bidang perkawinan, hukum di bidang tatacara membangun  dan membina rumah tangga, hukum di bidang pewarisan, hukum di bidang utang-piutang, hukum di bidang konflik dan tatacara penyelesaiannya, dan hukum di bidang pencemaran nama baik dan mencelakakan orang lain.


55.KABHANTI DARI SULAWESI TENGGARA

Kabhanti merupakan salah satu bentuk tradisi lisan yang ada pada masyarakat Suku Muna. Kabhanti memiliki ciri yang hampir sama dengan pantun / puisi lama. Kabhanti diciptakan oleh masyarakat Suku Muna.

Tradisi berucap pantun yang ada pada masyarakat Suku Muna, Sulawesi Tenggara ini telah lama ada di Pulau Muna. Kabhanti merupakan tradisi berucap pantun, baik yang diucapkan sendiri ( monolog ) maupun secara berbalas dalam suatu kelompok (kelompok Laki-laki maupun kelompok perempuan. Isi dari kabhanti biasanya mengemukakan serta menyampaikan hal hal yang berupa pesan moral bagi masyarakat, nilai nilai keagamaan, petunjuk kehidupan / petuah, sindiran, percintaan, serta nilai nilai budaya dan adat istiadat. Bagi masyarakat muna, kabhanti bertujuan untuk memperkokoh nilai dan norma dalam masyarakat.

56. LARIANGI DARI SULAWESI TENGGARA

LARIANGI DARI SULAWESI TENGGARA
Seni tari masyarakat Kep. Buton dan Wakatobi Sulawesi Tenggara. Dimainkan oleh lima orang wanita. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Tenggara. 

Tarian ini merupakan tari persembahan dari Kaledupa untuk dimainkan di Istana Raja dalam wujud gerakan dan nyanyian dengan fungsi utamanya adalah sebagai penerangan.

Berdasarkan makna kata Lariangi yaitu terdiri dari dua suku kata :
• Lari yang berarti menghias atau mengukir, baik itu dalam bentuk formasinya yang kadangkala berbentuk melingkar dan sebagian ada yang duduk juga terlukis pada gerakan kipas atau lenso yang bervariasi sesuai lagu yang dibawakan

• Angi adalah orang-orang yang berhias dengan berbagai ornamen untuk menyampaikan informasi atau suatu maksud tertentu berupa nasihat (petuah), anjuran ataupun sebagai hiburan yang nampak pada gerkan tari dan nyanyiannya.


57. LAYANGAN KAGATI DARI SULAWESI TENGGARA
LAYANGAN KAGATI DARI SULAWESI TENGGARA

Permainan Layang-layang tradisional suku Raha. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Tenggara. 

Layang-layang tradisional dari Pulau Muna ini terbuat dari lembaran daun kolope (daun gadung) yang telah kering kemudian dipotong ujung-ujungnya. Satu per satu daun tersebut dijahit dengan lidi dari bambu sebagai rangka layangan, sementara talinya dijalin dari serat nanas hutan. Permainan layang-layang (kaghati) oleh nenek moyang masyarakat Muna telah dilakukan sejak 4 ribu tahun lalu. Hal ini berdasarkan penelitian Wolfgong Bick tahun 1997 di Muna.


58. KAPAL PHINISI DARI SULAWESI SELATAN

KAPAL PHINISI DARI SULAWESI SELATAN
Perahu layar tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Menurut cerita di dalam naskah Lontara La Galigo, mengatakan kapal Pinisi pertama sudah ada sejak abad ke-14 yang dibuat oleh putra mahkota Kerajaan Luwu, Sawerigading, untuk digunakan berlayar menuju Tiongkok. 

Kapal tersebut dibuat dari bahan yang diambil dari pohon welengreng (pohon dewata) yang kokoh dan tidak mudah rapuh. Sebelum menebang pohon tersebut, terlebih dahulu dilaksanakan ritual khusus agar penunggunya bersedia pindah ke pohon lainnya. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Selatan.

59. TARIAN PA’GELLU DARI SULAWESI SELATAN

Pa’gellu dari Sulawesi Selatan
Tari Pa’gellu adalah suatu karya seni tari tradisional di Toraja (Tana Toraja, Toraja Utara) yang sejak dahulu dilakukan oleh gadis-gadis berjumlah 5 orang dengan iringan gendang, untuk upacara-upacara Rambu Tuka’ (syukuran panen, rumah adat yang baru dibangun), pesta perkawinan, penyambutan tamu-tamu agung dan pesta-pesta lainnya, kecuali upacara pemakaman orang Toraja. Tari Pa’gellu’ hanya bisa dilakukan oleh wanita, gadis dewasa karena seni Tari Pa’gellu’ tujuannya adalah hiburan dan bersifat rekreatif, selain menghibur juga membuat penonton menjadi senang dan khusus tamu yang di sambut merasa terhormat. Hampir setiap saat kita dapat menyaksikan penampilan seni Tari Pa’gellu’ ini di Toraja, bahwa luar Toraja dimana ada orang Toraja. Rasanya kurang lengkap sebuah pesta dan keramaian lainnya tanpa tari ini kecuali upacara kematian tidak ada Tari pa’gellu.


60. SINLIRIQ DARI SULAWESI SELATAN

SINLIRIQ DARI SULAWESI SELATAN
Tradisi lisan masyarakat Makassar yang berupa pembacaan sastra dengan diiringi rebab. Isi dari sastra sebagian diisi dengan pesan moral dan ajakan kepada masyarakat untuk menuju kebaikan. Selain itu, terkadang pemerintah juga menggunakan media Sinriliq untuk mensosialisasikan program-program pemerintah. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Selatan.

61. TARIAN PAKKARENA dari Sulawesi Selatan
TARIAN PAKKARENA dari Sulawesi Selatan
Tarian Pakarena dibawakan oleh penari perempuan yang mempertunjukkan kelemah-lembutan perempuan-perempuan Makassar. Tarian ini lebih banyak mempertunjukkan gerak tangan yang terayun ke samping kiri dan kanan serta ke depan secara beraturan dan lamban Namun gerakan tangan tersebut terangkat paling tinggi hanya setinggi bahu tidak pernah terangkat hingga setinggi kepala. Tangan kanannya selalu memegang kipas. 

Tari Pakarena adalah tarian tradisional dari Makassar. Pada abad 20, tari ini mulai keluar dari tradisi istana dan menjadi pertunjukan yang sangat populer. Tari ini sangat enerjik, terkadang juga begitu hingar bingar oleh musik, namun diiringi oleh tarian yang sangat lambat lemah gemulai dari para wanita muda. Dua kepala drum (gandrang) dan sepasang instrument alat semacam suling (puik-puik) mengiringi dua penari. Kelembutan mendominasi kesan pada tarian ini. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Selatan.

62. MOLAPI SORANDE dari Gorontalo
MOLAPI SORANDE dari Gorontalo
Tari Molapi saronde adalah tarian ritual pernikahan adat Gorontalo. Tarian ini dilaksanakan oleh pengantin laki-laki pada malam hari perkawinan mereka. Bahan yang digunakan adalah tiga macam selendang yakni warna hijau, kuning, dan kuning telur. Pelaksanaan ritual ini bertempatkan di tempat mempelai wanita. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Gorontalo.



63. GENDANG BELEQ dari Nusa Tenggara Barat
Gendang beleq adalah suatu peralatan musik, dan disebut gendang beleq karena gendang ini ukurannya besar dibandingkan dengan ukuran gendang pada umumnya. Gendang berarti kendang dan beleq berarti besar. 

Gendang besar (gendang beleq) ada dua jenis yang disebut gendang mama (laki-laki) dan gendang nina (perempuan). Perbedaan antara kedua gendang tersebut bukan pada bentuk fisiknya melainkan pada suara yang dihasilkan yaitu gendang mama lebih nyaring daripada gendang nina.m Gendang Beleq biasa dimainkan di panggung maupun di lapangan terbuka. Susunan pendukung musik gendang beleq dan penarinya yang baku terdiri dari 40 orang, dan dipertunjukkan pada acara-acara khusus seperti Maulud Nabi, Lebaran, upacara perkawinan, khitanan dan cukur rambut bayi. Sedangkan yang tidak baku terdiri dari 17 orang dipertunjukkan untuk menyambut tamu, perlombaan atau festival. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Barat.

64. WAYANG KULIT SASAK  dari Nusa Tenggara Barat
Wayang Kulit Sasak dari Nusa Tenggara Barat
Wayang Kulit Sasak adalah Wayang kulit yang berkembang di Lombok yang pada dasarnya mengambil cerita Menak yang ceritanya bersumber dari Cerita Amir Hamsah yaitu paman Nabi Muhammad SAW. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Barat.

Wayang Kulit dibuat dari kulit kambing, sapi atau kerbau yang sudah di proses lembaran.


65. SASANDO DARI NUSA TENGGARA TIMUR
Sasando adalah alat musik petik khas Orang Rote, Nusa Tenggara Timur, yang terbuat dari daun lontar dan kayu. Sasando yang seharusnya bernama Sasandu (bunyi yang dihasilkan dari getar) lahir dari inspirasi penemunya dari hasil interaksi dengan alam. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sasando adalah sebuah alat musik dawai yang dimainkan dengan dipetik. Instumen musik ini berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Suara sasando ada miripnya dengan alat musik dawai lainnya seperti gitar, biola, kecapi, dan harpa.

Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari atas kebawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.


66. CACI DARI NUSA TENGGARA TIMUR
Caci atau tari Caci atau adalah tari perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai di Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Penari yang bersenjatakan cambuk (pecut) bertindak sebagai penyerang dan seorang lainnya bertahan dengan menggunakan perisai (tameng). Tari ini dimainkan saat syukuran musim panen (hang woja) dan ritual tahun baru (penti), upacara pembukaan lahan atau upacara adat besar lainnya, serta dipentaskan untuk menyambut tamu penting.

Caci adalah tradisi permainan pada suku manggarai dengan beranggotakan dua orang pemain yang saling memukul menggunakan rotan dan perisai kulit kerbau. Dalam permainan caci ada penangkis dan ada pemukul yang dilakukan secara bergantian berulang-ulang. Pemenang dalam permainan ini adalah orang yang telah berhasil melukai lawannya di bagian wajah. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Timur.

Seorang laki-laki yang berperan sebagai pemukul (disebut paki) berusaha memecut lawan dengan pecut yang dibuat dari kulit kerbau/sapi yang dikeringkan. Pegangan pecut juga dibuat dari lilitan kulit kerbau.

Di ujung pecut dipasang kulit kerbau tipis dan sudah kering dan keras yang disebut lempa atau lidi enau yang masih hijau (disebut pori). Laki-laki yang berperan sebagai penangkis (disebut ta’ang), menangkis lecutan pecut lawan dengan perisai yang disebut nggiling dan busur dari bambu berjalin rotan yang disebut agang atau tereng. Perisai berbentuk bundar, berlapis kulit kerbau yang sudah dikeringkan. Perisai dipegang dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangan lainnya memegang busur penangkis.


67. RUMAH BALE DARI NUSA TENGGARA TIMUR
Arsitektur Sumba disebut juga Rumah Bale. dibedakan menurut status sosial pemiliknya, bala untuk rumah bangsawan dan bale untuk rumah rakyat jelata. Rumah Orang Sumbawa berbentuk panggung. Atap rumah Sumbawa tinggi seperti perahu dengan sudut sekitar 45 derajat. 

Di bagian depan atas terdapat lebang yang dahulu menunjukkan status sosial pemiliknya. Semakin banyak lebangnya, semakin tinggi status kebangsawanannya. Selain lebang, ukuran rumah juga menandakan status sosial pemiliknya. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Timur.


68. TARI SEKA DARI MALUKU
Seni pertunjukan tari suku Babar yang mengunakan gerak kaki sebagai tumpuhan dasar pergerakannya. Tarian ini dijadikan sebagai tarian sakral bagi para ksatria negeri/kampung yang akan berperang dengan sebuah asumsi bahwa tari seka besar mampuh secarah magis melindungi, dan menjaga para pejuang negeri yang turun ke mendan perang. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Maluku .




69. TAIS PET DARI MALUKU
Kain tenun tradisional masyarakat Tanimbar. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Maluku. Tais Pet memiliki fungsi sosial yang sangat kuat dikalangan masyarakat tanimbar sebagai simbol identitas diri. Pengenalan identitas diri itu terabstraksi lewat ikatan emosional komunitas Tanimbar yang memberikan nuansa persaudaraan, tenggang rasa, saling menghormati dan rasa sepenanggungan. 
Kemudian fungsi ini juga berlanjut secara lokal, regional maupun secara nasional, sehingga merajut ikatan-ikatan sosial terhadap  pengenalan masyarakat Maluku dan atau bangsa Indonesia pada umumnya. Selain itu juga Tais pet memberikan nuansa warna sebagai simbol status sosial, sehingga memberikan petunjuk terhadap status seseorang dalam struktur masyarakat. Warna hitam dan coklat merupakan warna kebesaran atau kewibawaan dalam diri seorang pemimpin. Warna merah, kuning dan putih merupakan cermin keberanian, kejujuran, ketulusan, keiklasan dan kesucian hati masyarakat.

70. TARI MAKU-MAKU DARI MALUKU
Tari Maku-maku adalah tarian tradisional yang bersifat sosial yakni merupakan tarian pergaulan yang bertujuan untuk mempererat keakraban antara anggota masyarakat dalam hal ini anak cucu Maluku. 

Tarian ini secara garis besar merupakan lambang persekutuan anak-anak masyarakat Maluku. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Maluku.

71. BAMBU GILA DARI MALUKU UTARA
Tarian bambu gila atau yang dikenal juga dengan nama Buluh Gila atau Bara Suwen berasal dari Maluku Utara. Sesuai namanya, tarian ini menggunakan sarana utama bambu. Penduduk setempat percaya bahwa bambu
memiliki kekuatan mistik dan dapat dirasuki.

Permainan bambu gila sudah ada di Ternate sejak ratusan tahun silam, sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Kepulauan Maluku. Di masa lampau, permainan bambu gila dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama untuk pekerjaan-pekerjaan berat, seperti memindahkan barang yang sulit diangkat jika hanya mengandalkan tenaga manusia semata.

Tarian /seni pertunjukan yang dilakukan oleh lebih dari sepuluh orang dengan memegang satu batang bambu sepanjang satu meter/ sesuai kebutuhan. Pemegang bambu dipertontonkan tidak kuat. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Maluku Utara.

Selain itu, bambu gila juga digunakan oleh masyarakat Kesultanan Ternate zaman dulu sebagai senjata untuk melumpuhkan musuh. Saat itu, bambu gila bisa dikerahkan dengan kekuatan supranatural untuk menyerang lawan.

Sampai saat ini, permainan bambu gila tetap dilestarikan di Ternate, tapi difungsikan sebagai permainan untuk hiburan rakyat. Permainan unik bambu gila kini bahkan telah menjadi salah satu daya tarik wisata di Ternate.

72. SOYA-SOYA DARI MALUKU UTARA
Pada tahun 1570-1583 telah terjadi sebuah penyerbuan ke markas Portugis di Benteng Kastella, Ternate oleh segenap rakyat Ternate yang
dipimpin oleh Sultan Baabullah. Penyerbuan ini memiliki latar belakang terbunuhnya Sultan Khairun, ayah dari Baabullah yang dijebak oleh Portugis di Benteng Kastella. Maksud utama dari penyerbuan ini sebenarnya bukan sekedar penyerangan, namun lebih kepada upaya penjemputan jenazah Sultan Khairun. Tetapi pada perkembangannya, penjemputan ini kemudian beralih menjadi kebangkitan perjuangan rakyat Kayoa, Maluku Utara terhadap penjajah Portugis pada akhir abad ke-16.


Seni Tradisi Tari Rakyat Maluku Utara. Tarian soya-soya tercipta pada masa Sultan Baabullah (Sultan Ternate Ke-24), dari Kesultanan Ternate, untuk mengobarkan semagat pasukan pasca-tewasnya Sultan Khairun pada 25 Februari 1570. Saat itu, tarian soya-soya dimaknai sebagai perang pembebasan dari Portugis hingga jatuhnya tahun 1575. Para penari akan menampilkan tarian yang lincah dimana merefleksikan gerak menyerang, mengelak dan menangkis. Jumlah penari soya-soya sendiri tidak ditentukan. Bisa hanya empat orang dan bahkan hingga ribuan penari.

Kisah heroik di atas adalah sejarah yang akan selalu menjadi penyemangat rakyat Ternate di dalam sebuah kebangkitan. Seiring berjalannya waktu, peristiwa di atas pun diabadikan dalam sebuah karya tari yang sarat akan nilai kepahlawanan. Tari ini bernama Soya-Soya yang berarti pantang menyerah dan juga dapat dimaknakan sebagai penjemputan. Soya-soya adalah tarian asli karya masyarakat Ternate yang merupakan ungkapan kebanggaan mereka terhadap perjuangan para pendahulu mereka dalam mengusir penjajah negeri Ternate yang sangat kaya.


73. TARI YOSIM PANCAR DARI PAPUA
Tari Yospan adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Papua. Tarian ini tergolong tarian pergaulan masyarakat yang bisa ditarikan oleh penari pria maupun penari wanita. Tari Yospan merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Papua, khususnya di daerah
pesisir utara Papua. Tarian ini biasanya sering ditampilkan di berbagai acara, baik acara yang bersifat adat, penyambutan, maupun acara budaya.

Tari Yospan adalah tarian pergaulan atau persahabatan para muda-mudi masyarakat Papua. Pertunjukan Tarian Yosim Pancar biasanya dilakukan lebih dari satu orang, dan memiliki gerakan dasar yang penuh semangat. Tarian Yosim Pancar sama sekali bukan tarian tradisi, melainkan tarian kontemporer yang dimodifikasi dengan berbagai tarian rakyat. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Papua.

Menurut beberapa sumber, Tari Yospan merupakan penggabungan antara dua tarian rakyat Papua, yaitu Tari Yosim dan Tari Pancar. Tari Yosim sendiri merupakan tarian yang hampir mirip dengan Tari Poloneis (tarian dansa eropa), banyak sumber yang menjelaskan Tari Yosim ini berasal dari daerah pesisir utara Papua. Sedangkan Tari Pancar merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang di daerah Biak, Numfor dan Manokwari. Awalnya Tari Pancar ini disebut dengan Tari Pancar Gas, agar lebih mudah disebut kemudian mereka menyingkatnya dengan Tari Pancar. Konon gerakan dalam Tari Pancar ini terinspirasi dari gerakan akrobatik pesawat pada masa penjajahan Belanda.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Tari Yospan merupakan tari penggabungan antara Tari Yosim dan Tari Pancar. Tari Yospan awalnya hanya menggunakan gerakan-gerakan yang ada pada kedua tari tersebut. Namun seiring dengan berjalannya waktu tarian ini kemudian dikembangkan oleh masyarakat disana, sehingga gerakannya lebih kaya dan bervariatif seperti yang sekarang ini.


74. UKIRAN ASMAD DARI PAPUA
UKIRAN ASMAD DARI PAPUA
Suku Asmat adalah suku besar yang cukup ternama di Bumi Papua.
Keberadaannya sebagai suku yang mendiami wilayah pesisir selatan Papua sangat diperhitungkan dalam sejarah penyebaran masyarakat Papua. Asmat menjadi begitu ternama karena memiliki harkat hidup yang luar biasa, selain itu budaya yang dimiliki suku ini pun sangat menarik dan unik. Salah satu yang menonjol ketika membicarakan suku ini adalah hasil seni ukiran mereka yang sudah terkenal luas hingga ke mancanegara.

Seperti kehidupan pada umumnya, Suku Asmat juga membutuhkan media untuk menyatakan berbagai hal yang mereka alami dalam kehidupan. Kisah-kisah heroik, mistis, atau peraturan-peraturan adat biasanya mereka ungkapkan dalam bentuk media tertentu. Hal ini mereka lakukan dengan berbagai tujuan, antara lain sebagai sarana menjaga kelangsungan tradisi, sarana belajar bagi generasi selanjutnya, dan penghormatan spiritual bagi para roh leluhur. Oleh karena itulah, ukir-ukiran menjadi
tidak terpisahkan dari kehidupan Suku Asmat dan mempunyai arti penting dalam berbagai upaya mengaktualisasikan kehidupan mereka. Namun, di masa modern saat ini, banyak dari mereka yang tidak hanya mengukir untuk mengaktualisasikan hidup, tetapi juga untuk alasan komoditas.

Sejak tahun 1700-an, suku Asmat di Papua telah dikenal dunia dengan keterampilan mengukirnya. Kesenian mengukir di Asmat merupakan aktualisasi dari kepercayaan terhadap arwah nenek moyang yang disimbolkan dalam bentuk patung serta ukiran. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Papua.

Ukiran Asmat memiliki ciri khas tersendiri bila dibandingkan berbagai ukiran dari daerah lain. Pengerjaan yang rapih dan detil-detil ukiran yang rumit menjadi alasan mengapa ukiran Asmat dapat tersohor hingga ke seluruh penjuru dunia. Motif-motif yang berhubungan dengan alam, makhluk hidup dan aktifitas kehidupan sehari-hari banyak ditemui di dalam ukiran Asmat. Bentuk yang umum ditemui misalnya adalah kelelawar, burung cendrawasih, dan ikan. Sedangkan bentuk aktifitas yang biasa mereka buat adalah manusia yang sedang berperang, berburu, atau mencari ikan, tidak jarang juga mereka membuat refleksi aktifitas hidup para leluhur Asmat. Yang pasti, motif maupun bentuk ini tidak akan terlepas dari kehidupan suku Asmat sendiri.


75. BARAPPEN DARI PAPUA DAN PAPUA BARAT
BARAPPEN DARI PAPUA DAN PAPUA BARAT
Bakar batu merupakan sebuah aktifitas memasak yang dilakukan oleh masayarakat suku Dani di Papua, dengan menggunakan media batu yang dipanaskan di api hingga menjadi berwarna merah dan benar-benar panas yang kemudian akan diselipkan di antara bahan-bahan yang akan diolah atau dimasak untuk dikonsumsi secara bersama-sama. Bahan utama yang digunakan adalah daging babi, saat ini dikembangkan selain babi (ikan, kelinci, ayam, kambing, dsb.) Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Papua dan Papua Barat.



76. TIFA DARI PAPUA, PAPUA BARAT, NTT, DAN MALUKU
TIFA DARI PAPUA, PAPUA BARAT, NTT, DAN MALUKU

Tifa merupakan alat musik khas Indonesia bagian Timur, khususnya Maluku dan Papua. Alat musik ini bentuknya menyerupai kendang dan terbuat dari kayu yang di lubangi tengahnya. Ada beberapa macam jenis alat musik Tifa seperti Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas.

Tifa mirip dengan alat musik gendang yang dimainkan dengan cara
dipukul. Alat musik ini terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau
dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. Bentuknyapun biasanya dibuat dengan ukiran. Setiap suku di Maluku dan Papua memiliki tifa dengan ciri khasnya masing-masing.

Tifa biasanya digunakan untuk mengiringi tarian perang dan beberapa tarian daerah lainnya seperti tari Lenso dari Maluku yang diiringi juga dengan alat musik totobuang, tarian tradisional suku Asmat dan tari Gatsi.

Alat musik perkusi khas Papua simbol perdamaian bagi masyarakat Papua tempo dulu. Bilamana terjadi perang diantara suku-suku di Papua. Para tua adat lantas membunyikan tifa untuk memanggil wakil dari kedua pihak berdamai. Namun kini, tifa tak lagi digunakan bagi suatu perdamaian. Tapi lebih digunakan dalam rituil adat, seperti pesta adat, perkawinan, menyambut tamu-tamu penting dan lain-lain. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur


77. RENDANG DARI SUMATERA BARAT
RENDANG DARI SUMATERA BARAT
Rendang dalam bahasa Minangkabau disebut dengan rendang adalah salah satu makanan tradisional khas Minangkabau yang sangat terkenal ke seantaro penjuru nusantara. Rendang tersebut memiliki beberapa warna, yakni merah kecoklatan, coklat, sampai coklat kehitaman. Pengertian rendang yang diambil dari kata Marandang, yakni suatu proses pengolahan lauk berbahan dasar santan yang dimasak sampai kandungan airnya berkurang, bahkan sampai kering sehingga apabila disebut rendang itu artinya olahan masakan yang kering tanpa mengandung air.

Masakan daging bercita rasa pedas yang menggunakan campuran dari berbagai bumbu dan rempah-rempah. Masakan ini dihasilkan dari proses memasak yang dipanaskan berulang-ulang dengan santan kelapa.

Proses memasaknya memakan waktu berjam-jam (biasanya sekitar empat jam) hingga kering dan berwarna hitam pekat. Dalam suhu ruangan, rendang dapat bertahan hingga berminggu-minggu. Rendang yang dimasak dalam waktu yang lebih singkat dan santannya belum mengering disebut kalio,
berwarna coklat terang keemasan. 


Rendang dapat dijumpai di Rumah Makan Padang di seluruh dunia. Masakan ini populer di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, dan Thailand. Di daerah asalnya, Minangkabau, Rendang disajikan di berbagai upacara adat dan perhelatan istimewa. Meskipun rendang merupakan masakan tradisional Minangkabau, masing-masing daerah di Minangkabau memiliki teknik memasak serta pilihan dan penggunaan bumbu yang berbeda.

Menikmati Sunrise Beach di Kawasan Wisata Pantai Sanur Bali

MENIKMATI SUNRISE BEACH DI KAWASAN WISATA PANTAI SANUR BALI

Menikmati Sunrise Beach di Kawasan Wisata Pantai Sanur Bal

Wisata Pantai Sanur Bali - Pantai Sanur merupakan salah satu tempat Wisata Pulau Bali yang cukup menarik untuk dikunjungi. Pantai ini terletak persis di sebelah timur kota Denpasar, Bali. Kawasan Pantai Sanur sudah terkenal sejak dahulu kala pada saat terjadi perang Puputan Badung pada tanggal 20 September 1906, di mana pada saat itu pasukan Belanda mendaratkan tentaranya di pantai Sanur. Dalam sejarah Bali Kuno, Pantai Sanur juga sudah terkenal dengan adanya bukti berupa tugu batu bertulis (Prasasti Blanjong) yang merupakan prasasti dari Raja Kasari Warmadewa yang berkeraton di Singhadwala sekitar tahun 917 Masehi, di mana prasasti tersebut terdapat di Blanjong, daerah bagian selatan dari Obyek Wisata Pantai Sanur.

Obyek Wisata Pantai Sanur Bali mulai diperkenalkan ke dunia internasional pada tahun 1932 oleh seorang pelukis bernama  A. J. Le Mayeur yang merupakan warga Negara Belgia. Keindahan Panorama Pantai Sanur membuat  Le Mayeur memutuskan tinggal di Sanur dan kemudian mendirikan sanggar lukis, lalu Le Mayeur menikah dengan seorang gadis Bali Ni Nyoman Pollok yaitu seorang penari Legong yang cukup terkenal. Kini sanggar lukis yang didirikan oleh Le Mayeur dijadikan sebuah Museum yang letaknya berada di area Kawasan Wisata Pantai Sanur.

Wisata Pantai Sanur Bali
Selain terkenal dengan keindahan panorama alamnya Wisata Pantai Sanur juga terkenal dengan sebutan Sunrise beach atau pantai matahari terbit kebalikan dari Pantai Kuta yang terkenal dengan sunset beach (pantai Matahari Terbenam).

Pantai Sanur Bali sekarang telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang wisata seperti hotel, restoran, kafe ataupun art shop. Selain fasilitas-fasilitas tersebut pada area pantai juga telah dibangun semacam pondok kecil yang digunakan untuk tempat duduk atau bersantai sambil menunggu Keindahan Sunrise Beach di Pantai Sanur.

Lokasi Objek Wisata Pantai Sanur berjarak sekitar 6 km dari pusat kota Denpasar dan dapat dicapai dengan kendaraan pribadi seperti mobil atau sepeda motor. Jika  menggunakan kendaran umum, wisatawan tak perlu khawatir karena kendaraan umum sangat ramai mondar-mandir antara Sanur-Denpasar.

Demikian sekilas tentang Objek Wisata Pantai Sanur Bali, segala informasi mengenai pantai sanur ini di rangkum dari berbagai sumber, semoga bisa menjadi refensi bagi anda mengenai Objek Wisata Pantai Sanur Bali, Semoga bermanfaat dan terima kasih.

Wisata Goa Cerme yang Eksotis

WISATA GOA CERME YANG EKSOTIS

WISATA GOA CERME YANG EKSOTIS

Objek Wisata Goa Cerme, Yogyakarta - Goa Cerme merupakan salah satu goa yang berada di dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Goa yang merupakan peninggalan sejarah ini memiliki panjang sekitar 1,5 km dimana goa ini tembus hingga sendang di wilayah Panggang, desa Ploso, Giritirto, Kabupaten Gunungkidul. Untuk mencapai goa ini anda harus menaiki tangga setinggi kurang lebih 759 meter. Selain itu di sekitaran Obyek Wisata Goa Cerme terdapat pula goa-goa kecil seperti goa Ledek, goa badut, goa Kaum dan Goa Dalang, dulunya goa-goa ini sering digunakan untuk bersemedi.

Wisata Goa Cerme yang Eksotis

Goa Cerme memiliki panorama keindahan stalagtit dan stalagmit serta adanya sungai bawah tanah dan banyaknya kelelawar di dalam gua. Wisata Goa Cerme memiliki kedalaman air sekitar 1 meter hingga 1,5 meter. Goa ini terdiri dari banyak ruangan dengan bentuk yang bermacam-macam seperti Kahyangan , Gedung Sekakap, Kraton,  Panggung Pertemuan, Watu Gilang, Lumbung Padi,  Air Zamzam, Mustoko, Air Suci, Watu Kaji, Pelungguhan atau Paseban, Grojogan Sewu, Air Penguripan, Gamelan,  dan Watu Gantung.

Sebagai goa yang masih terjaga keaslian alamnya, Obyek Wisata Goa Cerme menawarkan beberapa petualangan menantang didalamnya. Dengan jarak tempuh sekitar 1,5 km dari pintu masuk yang berada di wilayah Bantul, dan berakhir di desa Ploso Kabupaten Gunungkidul, selama jarak tempuh tersebut Anda akan berjalan didalam air dengan ketinggian air maksimal 1 – 1,5 meter. Licinya bebatuan dan terjalnya batu karang yang ada didalam air tersebut, akan menantang Anda sebagai petualang untuk tetap bertahan hingga menempuh batas akhir dari Gua Cerme.


Sejarah Goa Cerme Bantul
Kata cerme berasal dari kata ceramah yang mengisyaratkan pembicaraan yang dilakukan walisongo. Gua Cerme dulunya digunakan oleh para Walisongo untuk menyebarkan agama Islam di Jawa. Selain itu, gua Cerme juga digunakan untuk membahas rencana pendirian Masjid Agung Demak. Setiap Senin atau Selasa wage, selalu diadakan upacara syukuran untuk meminta berkah kepada Tuhan.

Transportasi ke Goa Cerme
Dari seluruh lokasi pertama kali menuju terminal Giwangan. Dari giwangan naik bus jurusan Imogiri lalu turun di dusun Srunggo, Desa Selopamioro, kemudian jalan menuju goa Cerme.

Tiket Masuk dan biaya Perjalanan:
  • Biaya rafting via agenwisata               : Rp 120.000
  • Biaya parkir motor di kawasan goa   : Rp 2.000
  • Tiket masuk goa                               : Rp 2.250
  • Sewa headlamp                                : Rp 5.000
  • Tiket masuk goa di dalam                 : Rp 2.000
  • Pemandu goa                                   : Rp 30.000
Informasi dari berbagai sumber.
Terima kasih anda telah mengunjungi blog Cinta Negeri.

Filosofi 3 Pakaian Adat Betawi

Filosofi 3 Pakaian Adat Betawi

Filosofi 3 Pakaian Adat Betawi
Suku Betawi dianggap sebagai suku dengan tingkat akulturasi budaya yang sangat tinggi di Indonesia. Menilik pada sejarah, suku yang berasal dari wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya ini memang telah mendapatkan banyak pengaruh dari berbagai budaya orang-orang luar daerah. Pedagang China, Arab, dan Belanda serta orang-orang suku lainnya di Indonesia telah memberikan banyak sumbangsih bagi perkembangan adat istiadat di suku ini sejak masa silam. Hal inilah yang kemudian adat dan kebudayaan Suku Betawi ini begitu unik dan berbeda.

Perbedaan dan keunikan suku betawi dapat kita lihat dari banyak hal, mulai dari bagaimana arsitektur hunian tempat tinggal mereka (rumah adat), bagaimana cara mereka berpakaian (baju adat), hingga beragam tradisi dan upacara yang hingga kini masih tetap lestari. Nah, sebetulnya di blog ini akan kita bahas ketiga hal tersebut, namun pada kesempatan kali ini, kita hanya akan membahas tentang pakaian adat betawi saja. Untuk arsitektur rumah adat dan upacara adat Betawi, mungkin kita akan bahas di lain kesempatan.

Pakaian Adat Betawi
Secara umum, kami telah menggolongkan pakaian adat betawi menjadi 3 jenis, yaitu pakaian adat yang digunakan untuk keseharian, pakaian adat yang digunakan dalam acara resmi, serta pakaian adat pernikahan yang biasa digunakan para pengantin Betawi. Berikut ini kita bahas ketiganya satu persatu.

1. Pakaian Keseharian Adat Betawi
Pakaian Keseharian Adat Betawi
Untuk keseharian, orang-orang Suku Betawi biasanya mengenakan pakaian yang sederhana. Para pria mengenakan baju koko atau baju sadariah berwarna polos, celana kolor panjang bermotif batik sederhana, kain pelekat berupa sarung atau selendang yang diselempangkan di pundak, serta peci berwarna hitam berbahan beludru. Sedangkan bagi para wanita, mereka umumnya akan mengenakan baju kurung berlengan pendek, kain batik bermotif geometri dengan warna cerah, serta kerudung yang serasi dengan warna bajunya. Berikut ini adalah contoh gambar pakaian adat betawi yang digunakan dalam keseharian mereka.

2. Pakaian Resmi Adat Betawi
Pakaian Resmi Adat Betawi
Dalam acara-acara resmi seperti pernikahan, hajatan, atau hari-hari besar, masyarakat suku betawi memiliki pakaian resmi yang terbilang sangat antik. Para pria mengenakan jas hitam dengan hiasan rantai emas di sakunya, celana dasar kain hitam yang dilengkapi dengan gubatan kain sarung pendek, serta peci hitam sebagai penutup kepala. Bagi para wanita, mereka mengenakan pakaian yang sebetulnya masih serupa dengan pakaian keseharian mereka yaitu kurung, kain batik bermotif geometri, serta kerudung berwarna cerah. Berikut penampakan pakaian adat betawi dalam acara resmi tersebut.

3. Pakaian Pengantin Adat Betawi
Pakaian Pengantin Adat Betawi
Berbeda dengan pakaian keseharian dan pakai resmi, pakaian adat Betawi yang dikenakan para pengantin merupakan pakaian yang kental pembauran budaya Tionghoa, Arab dan Barat. Tak heran jika kemudian pakaian pengantin ini diberi nama yang aneh, “Dandanan Care Haji” bagi pakaian pengantin Betawi pria dan “Dandanan Care None Pengantin Cine”.

Pakaian dandanan care haji yang dikenakan oleh pengantin laki-laki saat pernikahannya meliputi jubah berwarna cerah dan tutup kepala yang terbuat dari sorban. Sebagai hiasan, mereka juga akan mengenakan selendang bermotif benang emas dan manik-manik berwarna cerah. Sedangkan dandanan care none pengantin cine meliputi blus bergaya cina warna cerah yang terbuat dari bahan satin, bawahan rok berwarna gelap yang disebut Kun, serta sebagai pelengkap, di bagian kepala mereka menggunakan kembang goyang bermotif burung hong dengan sanggul palsu dilengkapi cadar di wajah.

Pada sanggul tersebut, hiasan bunga melati yang dibentuk sisir dan ronje menjadi pelengkap kecantikan. Perhiasan lain yang digunakan pengantin wanita betawi adalah gelang listring, kalung lebar, serta manik-manik yang dikalungkan di dada. Untuk alas kaki, mereka menggunakan selop model perahu. Nah, untuk lebih jelasnya, lihat gambar pakaian adat Betawi berikut ini.

Nah, itulah informasi seputar khasanah pakaian adat betawi mulai dari pakaian keseharian, pakaian resmi, dan pakaian pengantinnya. Semoga bisa berguna sehingga pengetahuan kita tentang aset peninggalan budaya bangsa Indonesia semakin bertambah. Salam. 


Terima kasih anda telah mengunjungi blog Cinta Negeri.

19 Oktober 2025

Silsilah Prabu Siliwangi, Raja Agung dari Pajajaran yang Melegenda

SILSILAH PRABU SILIWANGI RAJA AGUNG DARI PAJAJARAN 
YANG MELEGENDA

Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi
Sri Baduga Maharaja
Prabu Siliwangi

Prabu Siliwangi adalah salah satu tokoh paling legendaris dalam sejarah Nusantara, beliau sosok Raja besar yang dikenang sepanjang masa dalam sejarah tanah Sunda dan Nusantara. Namanya selalu dikaitkan dengan kebijaksanaan, keberanian, dan kejayaan Kerajaan Pajajaran. Beliau dikenal bukan hanya sebagai penguasa bijaksana dari Kerajaan Pakuan Pajajaran, tetapi juga sebagai seorang muslim sejati dan wali Allah yang mencapai derajat makrifat.

Kisah hidupnya sarat dengan nilai-nilai ketauhidan, kepemimpinan, dan kebijaksanaan spiritual yang menjadi teladan bagi umat hingga kini. Namun, tahukah kamu bagaimana silsilah dan asal usul Prabu Siliwangi sebenarnya.?

Artikel ini akan membahas secara lengkap garis keturunan Prabu Siliwangi berdasarkan naskah-naskah kuno dan tradisi lisan masyarakat Sunda.

Asal Usul dan Nama Asli Prabu Siliwangi
Prabu Siliwangi bukanlah nama asli, melainkan gelar kehormatan yang berarti "Raja yang harum namanya ke seluruh negeri". Nama aslinya adalah Sri Baduga Maharaja, yang memerintah Kerajaan Sunda Pajajaran pada sekitar tahun 1482–1521 Masehi.

Ia dikenal sebagai raja besar yang membawa masa keemasan bagi kerajaan Pajajaran, dengan pusat pemerintahan di Pakuan Pajajaran (sekarang sekitar Bogor, Jawa Barat).

Prabu Siliwangi berasal dari garis keturunan raja-raja besar dinasti Galuh. Beliau adalah putra dari Prabu Anggalarang, penguasa Kerajaan Gajah dari dinasti Galuh yang berkuasa di Surawisesa (Kraton Galuh).

Dalam tradisi lisan Sunda, Prabu Siliwangi disebut sebagai keturunan ke-12 dari Maharaja Adimulia, leluhur agung para raja Galuh. Sejak muda, beliau dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa, seorang pemuda gagah, Arif, dan berjiwa spiritual tinggi. Ia diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, juru pelabuhan Muara Jati, yang mendidiknya dengan nilai-nilai luhur kejujuran, keberanian, dan keimanan.

Masa Muda dan Awal Kepemimpinan
Dalam masa mudanya, Raden Pamanah Rasa dikenal gemar bertapa dan menuntut ilmu. Ia memiliki kepekaan spiritual tinggi serta kemampuan memimpin yang luar biasa. Berkat bimbingan Ki Gedeng Sindangkasih, beliau tumbuh menjadi sosok yang mengerti hakikat hidup dan makna kekuasaan.

Setelah dewasa, Raden Pamanah Rasa naik tahta menggantikan Ayahandanya dan mempersatukan dua kerajaan besar  Sunda dan Galuh menjadi satu kekuasaan besar bernama Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Sebagai raja, ia bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, namun rakyat lebih mengenalnya dengan sebutan Prabu Siliwangi, yang berarti raja yang harum namanya ke seluruh negeri.

Masuk Islam dan Perjalanan Spiritual
Berbagai naskah dan cerita masyarakat menyebutkan bahwa Prabu Siliwangi adalah seorang Muslim yang mendalami ilmu makrifat. Beliau pernah berguru kepada para ulama besar seperti Syekh Quro Karawang dan Syekh Datuk Kahfi. Dari para guru tersebut, beliau mempelajari tauhid, tasawuf, dan hakikat kepemimpinan berdasarkan ajaran Islam.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa beliau bahkan menunaikan ibadah haji ke Mekkah, dan sekembalinya ke tanah Sunda, semakin dikenal sebagai raja yang adil, zuhud, dan mencintai rakyat.

Silsilah Prabu Siliwangi
Berikut silsilah atau garis keturunan Prabu Siliwangi menurut naskah Carita Parahyangan, Babad Pajajaran, dan tradisi masyarakat Sunda:
- Maharaja Adimulya / Ratu Galuh Ajar Sukaresi menikah dengan Dewi Naganingrum (Nyai Ujung Sekarjingga) berputra :
- Prabu Ciung Wanara berputra:
- Sri Ratu Purba Sari berputra:
- Prabu Lingga Hiang berputra:
- Prabu Lingga Wesi berputra :
- Prabu Susuk Tunggal berputra:
- Prabu Banyak Larang berputra:
- Prabu Banyak Wangi berputra:
- Prabu Munding Kawati / Prabu Lingga Buana berputra:
- Prabu Wastu Kencana (Prabu Niskala Wastu Kancana) berputra:
- Prabu Anggalarang (Prabu Dewata Niskala) menikah dengan Dewi Siti Samboja (Dewi Rengganis) berputra:
- Sri Baduga Maharaja (Waliyulloh Jaya Dewata Raden Pamanah Rasa) (1459-1521 M)

1. PRABU ANGGALARANG (Prabu Dewa Niskala)
Beliau adalah ayah dari Prabu Siliwangi, seorang raja dari Galuh yang kemudian mempersatukan wilayah Sunda dan Galuh. Ia menikah dengan Dewi Siti Samboja (Dewi Rengganis), dan dari pernikahan itulah lahir Raden Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi).

2. SRI BADUGA MAHARAJA (Prabu Siliwangi )
Anak dari Prabu Anggalarang yang naik tahta menjadi Maharaja Sunda-Galuh. Dibawah pemerintahannya, Pajajaran mencapai kemakmuran tertinggi. Ia dikenal sebagai raja yang Arif dan Adil, serta banyak mendirikan Taman, Parit, dan Jalan-jalan besar, sebagaimana tercatat dalam prasasti Batu Tulis Bogor.
Prasasti Batu Tulis Bogor
Prasasti Batu Tulis Bogor

3. PUTRA PUTRI PRABU SILIWANGI
Menurut beberapa naskah kuno, Prabu Siliwangi memiliki beberapa putra dan putri dari 4 orang istri yang melahirkan para pembesar Kerajaan Pajajaran salah-satunya dari Nyi Kentring Manik Mayang Sunda dan Nyi Subang Larang.

Dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyi Kentring Manik Mayang Sunda melahirkan seorang anak:
1. Prabu Surawisesa
Sebagai anak tertua dari pasangan Prabu Siliwangi dan Mayang Sunda, Prabu Surawisesa memiliki peran penting dalam meneruskan kejayaan kerajaan yang diwariskan oleh ayahnya.

2. Sang Surasowan
Berbeda dengan kakaknya yang mewarisi tahta Pajajaran, sejak muda Sang Surosowan di serahi kedudukan sebagai Pucuk umun (Raja Bawahan Pajajaran) di Banten. Di zamanya ibukota Banten berada di wilayah yang kini disebut Banten Girang (Banten selatan).

3. Dewi Surawati

Dewi Surawati adalah adik kandung dari Prabu Surawisesa, yang keduanya merupakan anak dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) dengan Mayang Sunda.
 
Dan dari pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang melahirkan tiga orang anak. Adapun anak Prabu Siliwangi dari Nyai Subang Larang yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Raden Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Pendiri Kesultanan Cirebon dan tokoh penting dalam penyebaran Islam di Jawa Barat. Tokoh ini mempunyai banyak julukan diantaranya, Pangeran Cakrabuana, Haji Abdullah Iman, Sela Pandan, Mbah Kuwu Cirebon dan masih banyak julukan lainnya.

2. Ratu Rara Santang/Lara Santang, anak Prabu Siliwangi dan Nyi Subang Larang. beliau juga dijuluki dengan nama Syarifah Muda’im. Dikemudian hari Nyi Rara Santang menikah dengan penguasa Kota Ismailiyah (Mesir) yang bernama Syarif Abdullah dan melahirkan 2 orang anak yakni Syarif Nurullah dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) salah satu Wali Songo. 

3. Raden Kiansantang (Raden Surya Kencana/Raja Sangara), dikenal sebagai tokoh yang masuk Islam dan menjadi penyebar agama islam di tanah Sunda yang bergelar Syeh Sunan Rohmat Suci.

Dengan demikian, garis keturunan Prabu Siliwangi terhubung langsung dengan para Wali Songo, menjadikannya sosok yang penting baik dalam sejarah kerajaan maupun penyebaran islam di Nusantara.

(gelar: Prabu Siliwangi)
Gaduh asisten maung bodas ti bangsa jin ngarana si tablo / prabu giling wesi sakti di curug sawer talaga majalengka maqom prabu siliwangi di rancamaya bogor ngaosna ka syekh quro karawang (syekh hasanuddin bin yusuf al-husainy madzhab hambaliy),

"Ada asisten singa putih dari bangsa jin bernama Tablo/prabu giling wesi sakti di curug sawer talaga majalengka maqom prabu siliwangi di rancamaya - bogor beliau berdoa kepada syekh quro karawang" (syekh hasanuddin bin yusuf al-husainy madzhab hambaliy)

Asisten Gaib: Maung Bodas dari Bangsa Jin
Dalam tradisi lisan Sunda, Prabu Siliwangi diyakini memiliki asisten gaib dari bangsa Jin, seekor Maung Bodas (harimau putih) bernama Si Tablo juga dikenal dalam versi lain sebagai Prabu Giling WesiMaung bodas ini disebut-sebut sebagai penjaga gaib dan sahabat setia Prabu Siliwangi, melambangkan Kekuatan, Kesetiaan, dan Keteguhan Spiritual.

Menurut cerita rakyat Majalengka dan Sukabumi, Si Tablo bersemayam di kawasan Curug Sawer Telaga Herang, tempat yang dianggap sakral dan sering dikaitkan dengan jejak langkah terakhir Prabu Siliwangi sebelum beliau “ngahiang” (menghilang ke alam gaib).

GURU PRABU SILIWANGI
1. Syekh Quro Karawang (Syekh Hasanuddin bin Yusuf  bani Al-Husain cucu Nabi SAW) dan
2. Syekh Datuk Kahfi Cirebon yang juga dari Bani Al-Husain cucu Nabi Muhammad SAW.


SEKILAS SIROH / RIWAYAT HIDUP 
PANGERAN PAMANAH RASA ( PRABU SILIWANGI)
Semenjak abad empat belas setelah Pangeran Anggalarang mengajarkan kembali keilmuan-nya untuk mejadi seorang raja, agar bisa memimpin kerajaan dan rakyat-rakyatnya, dari situ Pangeran Pamanah Rasa di angkat oleh ayahnya pangeran Anggalarang menjadi raja kedua dari kerajaan Gajah, yang disebut-sebut kerajaan Gajah itu simbol atau tanda lambang kerajaan yang dibawa dari adat atau budaya, karena jika punya kerajaan harus tahu nama kerajaannya.

Pangeran Pamanah Rasa berkelana, dan mempunyai  Macan Putih (dari bangsa Jin)
Pangeran Pamanah Rasa ingin mencoba keluar meninggalkan saudara-saudaranya (yakni Prabu Rangga Pupukan dan Prabu Jaya Pupukan) dan rakyat gajah, untuk keluar dari Kerajaan Gajah  guna mencari ilmu dan mengunjungi kerajaan-kerajaan yang lain sambil beliau memperkenalkan diri bahwa beliau yang memegang kerajaan Gajah, Beliau pergi sendiri tidak dikawal oleh satu orang pun padahal prajurit-prajuritnya banyak yang menawarkan diri agar di kawal, tetapi beliau tetap pergi sendiri.

Setelah beliau keluar dari hutan, beliau merasa haus lalu mencari air untuk minum. Akhirnya Pangeran Pamanah Rasa menemukan air terjun yang besar (air terjun ini bernama curug sawer di Majalengka). Setelah beliau mendatangi air terjun tersebut Pangeran Pamanah Rasa kaget karena di sekelilingnya banyak harimau putih dan besar.

Harimau Putih tersebut menghampiri Pangeran Pamanah Rasa, sudah hampir sampai tinggal beberapa langkah lagi Harimau Putih itu mau menerkam Pangeran Pamanah Rasa.

Pangeran Pamanah Rasa memakai keilmuan-nya membuat gulungan angin besar, dan angin tersebut dibentuk dan dipadukan dengan air terjun yang mengalir menggunakan tenaga dalam ilmu kanuragan, dibentuklah menjadi gulungan Angin dan Air yang dijadikan senjata untuk melawan Harimau Putih itu ternyata tak ada pengaruhnya bagi harimau putih itu, karena harimau putih itu jelmaan dari Jin Ifrit, sehingga harimau putih itu menerkam Pangeran Pamanah Rasa dan Pangeran Pamanah Rasa pun menangkisnya dengan Gelang Timah yang ada di tangannya, sehingga Harimau putih itu pun menjerit kesakitan, dari situlah  Pangeran Pamanah Rasa mengetahui kelemahan Harimau putih itu yakni dengan gelang yang terbuat dari Timah.

Maka dibukalah 2 gelang timah itu dari kedua tangannya, ketika harimau putih itu mau menerkam lagi dengan gesitnya Pangeran Pamanah Rasa memasukan gelang dari timah itu di kedua tangan Harimau putih itu dan satu gelang lagi di kedua kaki Harimau putih itu sehingga dari situlah Harimau Putih pun kalah tak berdaya, menjerit meminta ampun kepada Pangeran Pamanah Rasa. 

Dari kejadian itulah Pangeran Pamanah Rasa mengetahuinya bahwa harimau putih itu bukan harimau biasa, karena harimau itu bisa berbicara seperti manusia, maka Harimau Putih jadi-jadian yang mau mencelakakan Pangeran Pamanah Rasa itu bertobat, dan ia akan mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya yang sudah dilakukan padanya. 

Sebelum Pangeran Pamanah Rasa berangkat Harimau Putih jadi-jadian itu memberikan pakaian, Karena pakaian pangeran sobek bekas pertarungan tadi. Pangeran Pamanah Rasa dikasih pakaian dari kulit harimau oleh Harimau Putih jelmaan dari Jin itu. Harimau Putih jelmaan dari jin itu merasa kurang cukup apabila hanya memberi pakaian saja, jadi dia memutuskan untuk mengabdi kepada Pangeran Pamanah Rasa dengan mendampingi beliau.

Pangeran Pamanah Rasa kembali ke kerajaan Dengan Mongol Pati
Pangeran Pamanah Rasa perasaan-nya tidak tenang, beliau takut ada apa-apa sesuatu yang buruk menimpa pada kerajaannya. Pangeran Pamanah Rasa menempuh perjalanan dalam waktu 3 hari untuk sampai ke kerajaan.

Eyang Jaya Perkasa yang disuruh dan yang di titipi memegang kerajaan mendapatkan surat dari kerajaan Mongol Pati untuk masalah wilayah, surat dari kerajaan Mongol Pati, yang isi suratnya mengajak berperang. Eyang Jaya Perkasa menggantikan Pangeran Pamanah Rasa dikarenakan 3 hari lagi dari kerajaan Mongol Pati mau menyerang ke kerajaan Gajah. 

Secara terus menerus berlangsung dengan hebatnya, saling hantam senjata tajam dan sebagainya. Tidak lama kemudian Harimau Putih jelmaan dari Jin itu mendadak keluar berhamburan entah dari mana datangnya, ada beberapa Harimau Putih muncul, menyerang prajurit Mongol Pati, tak lama kemudian prajurit kerajaan Mongol Pati mundur kocar kacir di amuk Harimau Putih, sebagian lagi mati oleh Harimau Putih.

Siang itu juga perang selesai, Harimau Putih berjejer menghadap Panglima Eyang Jaya Perkasa dan prajuritnya. Tak lama kemudian dihadapan Harimau Putih yang berbaris, Pangeran Pamanah Rasa mendadak ada disamping Harimau Putih yang lebih besar, dari sana prajurit-prajurit tertunduk menyembah kepada beliau, seketika Harimau Putih yang berbaris lenyap menghilang, tinggal satu lagi yang disamping Pangeran Pamanah Rasa.

MENGGANTI NAMA KERAJAAAN GAJAH MENJADI PAKUAN PEJAJARAN 
DAN MEMBUAT SIMBOL SENJATA KUJANG YANG PERTAMA
Pangeran Pamanah Rasa sudah menghitung nama apa yang baik untuk mengganti nama kerajaan yang sekarang. Terus beliau mempertimbangkan bersama panglimanya, kata Pangeran Pamanah Rasa.

"Negara kita Negara sunda, maka kita bisa disebut orang sunda, kemudian sekarang zaman-nya sudah agak beda bukan zaman purba lagi, memang sejak dulu kerajaan Gajah terkenal, berkat Ramahanda saya, yang masih termasuk zaman purba, dengan simbol Gajah, disatukan jadi simbol kerajaan, datang dari petunjuk yang jadi kekuatan berdirinya kerajaan Gajah juga sama".

"Negara ini juga ada nama, yaitu Negara yang kita diami adalah tataran sunda yang termasuk dari simbolnya yaitu binatang yang paling buas yaitu Harimau sunda tersebut harus benar-benar dipegang oleh saya, jadi harus dipercepat membuat barang-barang yang membentuk pisau untuk ciri dari kerajaan sunda sebagai simbol yang bisa menyimpan kekuatan, buatkan pisau berbentuk Harimau sebanyak 3 buah".

Pada waktu itu juga Pangeran Pamanah Rasa menyuruh Eyang Jaya Perkasa untuk membuat senjata, yaitu harus menyimbolkan tataran sunda, senjata sunda yaitu pisau yang berbentuk Harimau, sebagai awal mula sejarah dibuatnya tiga senjata yang berbentuk Harimau tiga warna, yaitu Kuning, Hitam, Putih senjata-senjata tersebut diminta untuk langsung dibuatkan.

- Senjata pertama yang berwarna hitam, dibuat dari batu yang jatuh dari langit yang sering disebut meteor, yang dibakar oleh Pangeran Pamanah Rasa sendiri, dibentuk besi yang diperuntukkan untuk membuat senjata tersebut.

- Senjata Kedua dibuat dari air api yang dingin, yang warnanya kuning dibekukan menjadi besi kuning.

- Senjata ketiga dari besi biasa yang direndam dalam air hujan menjadi putih berkilau.

Barang sudah jadi tinggal namanya, semalam penuh Pangeran Pamanah Rasa memikirkan nama untuk barang itu, tepat ayam berkokok tepat ditemukan nama untuk ketiga barang tersebut, yaitu dengan bahasa sandi, bahasa itu sangat tepat untuk barang senjata yang sudah jadi, yaitu namanya KUJANG, dikarenakan barangnya ada tiga, beda-beda warna tapi bentuknya sama disebut jadi KUJANG TIGA SERANGKAI, YANG ARTINYA BEDA-BEDA TAPI TETAP SAMA atau nama yang beda warna tapi berkaitan, dikarenakan bentuknya sama, Pangeran Pamanah Rasa bicara lagi.

Nah, saya ini ada petunjuk yaitu jika dari barang sudah selesai sekarang masalah nama kerajaan, dikarenakan saya ada yang membantu yaitu bangsa Jin atau Harimau-harimau ghaib, jadi saya membawa nama kerajaan dari Negara Gajah dengan kerajaan Harimau, bila disatukan maka namanya disebut PAKUAN PAJAJARAN disatukan lagi oleh barang yang tiga itu yang namanya KUJANG jadi tepat sudah, nah ditatar sunda ini lahir Kerajaan Pajajaran.

Eyang saat mengganti kerajaan ini namanya bukan untuk saya sendiri tapi untuk rakyat semua supaya ada perubahan untuk semuanya, oleh karena itu kita semua harus mengikuti zaman, sekarang sudah agak maju zamannya dikarenakan harus di iringi oleh ilmu ekonomi, hal itu dari melihat kerajaan yang lain, hal itu juga untuk merebut kerajaaan Galuh yang membayar Mongol Pati untuk menyerang kerajaan kita, jadi kita juga sama, kita serang kerajaan Galuh dengan tenaga baru, prajurit Gajah dan prajurit Harimau kita satukan memakai Bahasa sandi, jadi nama ini Pajajaran. Nah begitu barangkali rencana saya.

Pangeran Pamanah Rasa bicara begitu ke panglimanya dikarenakan ingin didukung oleh panglimanya, jawab Eyang Jaya Perkasa.

"Iya Pangeran, saya mengikuti, dikarenakan itu petunjuknya, laksanakan saja jangan takut dibantu oleh saya Insya Allah", Nah itu jawaban Eyang Jaya Perkasa dengan menyebut Insya Allah dikarenakan Eyangnya seorang yang beragama islam beda dengan Pangerannya.

Pangeran Pamanah Sari Masuk Islam Oleh Syekh Quro
Pangeran Pamanah Rasa berganti nama menjadi Pangeran Pamanah Sari untuk menaklukan Syekh Quro (yakni Syekh Hasanuddin bin Yusuf  dari bani Husain cucu Nabi Saw) atas perintah Ayahandanya Prabu Anggalarang, Namun waktu mau menyerang ke pesantren Quro yang berada di karawang milik Syekh Quro,  Pangeran Pamanah Sari mendengar Alunan bacaan Al-Qur’an yang merdu sekali, sehingga penyerangan pun dibatalkan. 

Akhirnya Pangeran Pamanah Sari menyelidiki siapakah gerangan yang telah membaca Al-Qur’an itu..? ternyata setelah diselidiki yang membaca Al-Qur’an itu seorang gadis yang cantik jelita, sehingga Pangeran Pamanah Sari terpikat oleh kecantikannya, kemudian Pangeran Pamanah Sari mendatangi Syekh Quro untuk melamar gadis cantik jelita itu, yang tadinya bertujuan menyerang jadi berbalik haluan menjadi bentuk pelamaran, namun Syekh Quro menyarankan agar mendatangi ayah aslinya yang bernama Ki Gedeng Tapa, beberapa hari kemudian Pangeran Pamanah Sari meminta kepada Ki Gendeng Tapa membawa putrinya untuk di nikahi oleh Pangeran Pamanah Sari, penawaran itu sudah diserahkan semuanya kepada Syekh Quro, sebab Nyi Subang Larang sudah menjadi putri angkatnya Syekh Quro.

Pangeran Pamanah Sari datang lagi ke Syekh Quro. Setelah sampai ditempatnya Syekh Quro, Pangeran Pamanah Sari berbicara hanya pokok masalah penting saja, yaitu tentang mau menikahi Nyimas Subang Larang, Syekh Quro menerima lamaran Pangeran Pamanah Sari namun dalam masalah itu Syekh Quro meminta syarat yang harus di penuhi dan dilakukan dengan 3 syarat yaitu:

- Pertama harus masuk islam, 
- Kedua harus belajar ngaji, 
- Dan yang ketiga harus berangkat dulu pergi Haji, 
itulah ke-3 syarat yang diberikan oleh Syekh Quro kepada Pangeran Pamanah Sari.

Pangeran Pamanah Sari Kebingungan dengan persyaratan tersebut karena terlalu berat buat beliau karena beliau dari agama Hindu, tetapi karena ada yang ingin dicapai oleh Pangeran Pamanah Sari, maka Pangeran Pamanah Sari memutuskan untuk menerima 3 syarat tersebut, dan Syekh Quro berjanji menentukan waktu untuk mengislamkan Pangeran Pamanah Sari yaitu satu hari setelah Pangeran Pamanah Sari menyanggupinya, tidak terlalu lama waktu yang ditunggu telah tiba. 

Pangeran Pamanah Sari siap untuk di islamkan, beliau datang kepada Syekh Quro untuk di islamkan ketika sampai ke tempatnya Syekh Quro. Semua orang dikumpulkan ke dalam ruangan, Ki Gendeng Tapa menyaksikan Pangeran Pamanah Sari di islamkan, tidak terlalu lama Pengeran Pamanah Sari diberikan janji oleh Syekh Quro sambil memegang tangan-nya dengan mengucapkan dua kalimah Syahadat (Syahadatain), setelah selesai membaca Syahadat kemudian dicukur Rambut kekufurannya dan mandi masuk islam, kemudian di sunat dan Pangeran Pamanah Sari dianggap sah menjadi muslim, seminggu kemudian Pangeran Pamanah Sari langsung menjalankan syarat yang kedua yaitu belajar ngaji.

Syekh Quro langsung mengajarkan, siang malam Pangeran Pamanah Sari belajar ngaji dengan Syekh Quro, karena ingin bisa serta ingin cepat mengejar pada syarat yang ketiga, tidak lama kemudian setelah 5 bulan Pangeran Pamanah Sari bisa ngaji seperti membaca huruf Arab, Sholat, dan pemikiran islam seperti apa artinya islam, semua ilmu agama islam telah diserapnya.

Syekh Quro bingung dan heran Pangeran Pamanah Sari bisa belajar dengan cepat, padalah sampai tingkatan semua itu, bisa butuh waktu sekitar dua atau tiga tahun. Pangeran Pamanah Sari langsung meminta syarat yang ketiga yaitu naik Haji, Syekh Quro langsung menyiapkan Pangeran Pamanah Sari, sebab Pangeran Pamanah Sari mau dibawa ke Arab yaitu ke Mekkah tampat orang naik Haji, beliau dikasih tahu dulu oleh Syekh Quro harus itikaf, berdiam diri di Mekkah selama 40 hari.

Pangeran Pamanah Sari Berangkat ke Haji
Setelah Syekh Quro menjelaskan, Pangeran Pamanah Sari mengerti dan menyanggupi, pada malam itu juga Syekh Quro membawa Pangeran Pamanah Sari ke Mekkah. Pangeran Pamanah Sari berangkat ke Mekkah dibawa terbang oleh Syekh Quro sampai ke Mekkah membutuhkan waktu satu malam, berangkat malam sampai subuh tiba di Mekkah langsung sholat shubuh, setelah sholat subuh Syekh Quro dengan Pangeran Pamanah Sari istirahat dulu, setelah istirahat langsung melaksanakan ibadah haji sejak pertama melaksanakan sholat berjamaah sampai amalan-amalan yang diajarkan oleh Syekh Quro diamalkan, sehari penuh berkeliling Ka'bah.

Pangeran Pamanah Sari kebingungan kenapa dirinya jadi begini, sudah beberapa hari Pangeran Pamanah Sari ada perubahan dalam dirinya sedikit-sedikit dosa dan kejadian-kejadian oleh beliau yang di alami seperti nyata kelihatan nampak seperti mimpi buruk atau jelek.

Pangeran Pamanah Sari sampai menangis habis-habisan didepan Ka’bah. Semenjak itu Pangeran Pamanah Sari percaya islam dan percaya adanya Allah, 40 hari tidak terasa sudah berlalu Pangeran Pamanah Sari dibawa pulang oleh Syekh Quro setelah sampai kembali ketempat, banyak yang berkumpul menunggu yang pulang dari Haji.

Malam itu juga Syekh Quro dengan Pangeran Pamanah Sari sudah sampai ditempat, pulang dari haji. Karena malam itu sudah pada lelah tidak terlalu lama setelah mengobrol lalu istirahat.

Ayam sudah bekokok yang artinya waktu sholat subuh, Pangeran Pamanah Sari yang biasanya bangun pagi setelah matahari bersinar, tetapi sekarang masih gelap juga sudah bangun untuk sholat subuh dengan Syekh Quro, setelah sholat subuh Pangeran Pamanah Sari melanjutkan Wirid dan dzikir sampai matahari terbit.

Setelah selesai wirid dan Dzikir, Pangeran Pamanah Sari ditanya oleh Syekh Quro dalam masalah pernikahannya dengan Nyai Subang Larang, dari situ Pangeran Pamanah Sari ingin bicara dulu kepada semuanya, karena sebelumnya beliau ada niat hati yang jelek, setelah belajar dengan Syekh Quro, Pangeran Pamanah Sari mengalami banyak perubahan dalam dirinya dan tahu mana ajaran yang benar dan mana ajaran yang salah, oleh karena itu Pangeran Pamanah Sari menjelaskan yang sebenarnya bahwa dia yang sebenarnya adalah Raja di Kerajaan Pajajaran.\

Setelah dijelaskan ada yang terkejut, ada yang langsung menyembah dan sebagainya, tetapi Syekh Quro biasa saja karena sudah tahu dari awalnya juga, tidak ada yang membuat marah satupun malahan senang Pangeran Pamanah Sari berterus terang.

Pamanah Sari Menikah dengan Nyimas Subang Larang
Dikarenakan Syekh Quro sudah berjanji kepada Pangeran Pamanah Sari dalam syarat yang ketiga yaitu menikahkan Nyimas Subang Larang dengan Pangeran Pamanah Sari. 

Pangeran Pamanah Sari langsung gembira mendengar perkataan Syekh Quro, semua yang ada disitu terus memastikan atau menentukan hari-harinya untuk pernikahan yang baik, Itu semua diserahkan kepada Syekh Quro yang lebih mengetahui waktu yang baik. Tidak lama waktu sudah ditentukan oleh Syekh Quro, ada waktu 3 hari untuk mempersiapkannya. Waktu tiga hari terasa cepat tidak disangka-sangka Pangeran Pamanah Sari menikah juga dengan Nyimas Subang Larang, pada hari itu pesta besar dilaksanakan, namun hanya dipenuhi oleh para santri Syekh Quro saja dari pertama sampai akhir (yakni tanpa memberitahukan ayahandanya dan  rakyat Pajajaran).

Pangeran Pamanah Sari Menjadi Penguasa di Cirebon dan Bergelar Prabu Siliwangi
Kemudian Pangeran Pamanah Sari Menikah dengan Nyimas  Ambet Kasih putri kandung Raja Sindang kasih (Majalengka) yakni putri Ki Gedeng Sindangkasih.

Pangeran Pamanah Sari dengan Nyimas  Ambet Kasih sudah resmi menjadi suami istri. Pangeran Pamanah Sari berkumpul dengan istri-istrinya menjadi hidup bersama-sama. Tidak lama kemudian Ki Gedeng Sindangkasih menyerahkan sebagian tanah Cirebon karena yang sebagian lagi kepunyaan Ki Gendeng Tapa Raja singapura, lantas Pangeran Pamanah Sari menerima pemberian mertuanya itu, tidak lama kemudian Ki Gendeng Tapa sudah tua dan berusia lanjut akhirnya yang sebagiannya lagi diberikan juga kepada Pangeran Pamanah Sari. 

Jadi tanah Cirebon dipegang oleh Pangeran Pamanah Sari semuanya, tidak lama kemudian para sesepuh berkumpul dengan Pangeran Pamanah Sari, Ki Gedeng Tapa, Ki Gedeng Sindangkasih, Ki Dampu Awang dan Ki Susuk tunggal, beserta istri-istrinya Pangeran Pamanah Sari yakni ada 4 yaitu: 

- Nyimas  Ambet Kasih putri kandung Ki Gedeng Sindangkasih, 
- Nyimas Subang Larang
- Nyimas Aciputih Putri 
- dan Nyimas Ratna Mayang Sunda/ Nyimas Kentring Manik.

- Istri yang pertama Nyimas Aciputih Putri dari Ki Dampu Awang, 
- Istri yang kedua yaitu Nyimas Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa 
- Yang ketiga yaitu Nyimas  Ambet Kasih putri kandung Ki Gedeng Sindangkasih 
- Yang ke-empat yaitu Nyimas Ratna Mayang Sunda / Nyimas Kentring Manik putri Ki Susuk Tunggal.
Semuanya pada berkumpul sebab Pangeran Pamanah Sari sakti mandraguna dan pintar, terkenal dimana-mana yang menguasai kerajaan Pajajaran.

Pangeran Pamanah Sari oleh sesepuh diberi julukan SANG PRABU SILIWANGI yang artinya Raja Kerajaan Pajajaran yang harum dimana-mana terkenal dimana-mana, Pangeran Pamanah Rasa atau Pangeran Pamanah Sari menjadi terkenal dengan gelar Sang Prabu Siliwangi.

Prabu Siliwangi hidup jaya sampai dengan beliau mempunyai putra dari istri yang pertama
Yakni dari Nyimas  Aciputih Putri dari Ki Dampu Awang  berputra :
1. Mundingsari Ageung  / Raden Arya Seta
2. Munding Kelemu Wilamantri / Mantri Kasurudan Tapa / Mantri Kasurutapa
3. Munding Dalem
4. Dalem Manggu Larang
5. Balik Layaran alias Sunan Kebo Warna

Dan dari istri yang kedua:
Yakni dari Nyimas Subang Larang mempunyai 2 orang putra dan 1 orang putri :
1. Pangeran Cakrabuana / Walangsungsang ( H. Abdullah Iman bergelar  Sunan Caruban),
2. Syarifah Muda’im/ Nyimas Lara Santang dan
3. Raja Sangara/prabu kiansantang (H. Mansur bergelar Sunan Rohmat Suci Godog garut). Ketiga-tiganya masuk Islam.seperti kata pepatah orang sunda “uyahmah tara tees ka luhur “ artinya Sifat orang tua turun ke anak, mana mungkin ayahnya hindu anaknya Islam, karena keumuman orang sunda menganut Islam tabi’in yakni islam turunan, karena ayahnya Islam maka anaknya juga Islam.

Dan dari istri yang ketiga,
Yakni dari Nyimas Ambet Kasih mempunyai 2 putra yakni :
1. Prabu Liman Sanjaya, dan
2. Raden Sake alias Prabu Wastu Dewata/ Prabu Basudewa

Dan dari istri yang keempat,
Yakni dari Nyimas Ratna Mayang Sunda / Nyimas Kentring Manik berputra :
1. Prabu  Surawisesa / Raden Jaka mangundra Prabu Guru Gantangan / Munding Laya Dikusuma/ Jaka Puspa /
2. Raden  Gantangan Wangi Mangkurat Mangkunagara
3. Raden Gantang Nagara
4. Raden Gantang Pakuan / Raden Ne-Eukeun
5. Raden Meumeut raden Ameut / Raden Ceumeut

Prabu Siliwangi Menghilangkan Kerajaan Pajajaran Pindah ke Alam Jin (Alam Ghaib).
Prabu Siliwangi dari keempat istrinya beliau mempunyai keturunan sampai beliau lupa terlalu lama tinggal di Cirebon. Tidak lama kemudian datanglah prajurit Pajajaran yang di utus oleh panglimanya untuk menjemput Prabu Siliwangi kembali pulang ke kerajaan, karena Kerajaan Pajajaran membutuhkan seorang Raja.

Prabu Siliwangi bingung karena sudah berbeda agama. Prabu Siliwangi sudah muslim sedangkan di kerajaan Pajajaran masih beragama Hindu. Akhirnya prabu Siliwangi mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah itu.

Sebelum pergi Prabu Siliwangi berpesan kepada seluruh istrinya agar tanah Cirebon dan ajarannya harus turun-temurun sampai pada anak cucu mereka. Lalu Prabu Siliwangi berangkat kembali ke Kerajaan Pajajaran bersama para prajurit dan ditemani oleh macan putih dari bangsa Jin yang telah diangkat menjadi panglima oleh Prabu Siliwangi.

Waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke kerajaaan Pajajaran sekitar 3 hari, tetapi karena Prabu Siliwangi telah mempunyai Ilmu Saefi Angin maka tak disangka-sangka mereka bisa sampai tujuan hanya dalam waktu setengah hari.

Seluruh rakyat Kerajaan dan segenap keluarga menyambut kedatangan Prabu Siliwangi, mereka menyembah Prabu Siliwangi sepanjang jalan menuju Kerajaan, lalu Prabu Siliwangi disambut dengan suka cita oleh kakeknya Panglima Eyang Jaya Karsa, Prabu Siliwangi masuk ke dalam kerajaan tak ada yang berubah satu pun di kerajaan masih seperti waktu di tinggalkan dulu.

Beberapa hari terakhir Prabu Siliwangi memikirkan bagaimana Fitnah dari rakyat-rakyatnya apabila mereka tahu bahwa dirinya sudah di islamkan oleh Syekh Quro. Sebenarnya beliau telah memikirkan hal ini semenjak berada di tanah Cirebon bagaimana caranya supaya menghilangkan Fitnah atau perkataan-perkataan dari rakyatnya yang tidak tahu tentang agama, tidak lama kemudian Prabu Siliwangi mendatangi Macan Putih panglimanya supaya membantu negara Pajajaran dipindahkan ke alam Jin (alam ghaib). Prabu Siliwangi menunggu datangnya bulan Purnama untuk menjalankan rencananya itu, ketika pintu ghaib terbuka, kebetulan datangnya bulan purnama hanya 2 hari lagi, sambil menunggu Prabu Siliwangi bersama Macan Putih malam-malam pergi ke batas Kerajaan Pajajaran untuk menanam pohon Jeruk, dari batas kerajaan supaya ketika menghilang tidak meninggalkan jejak sedikitpun dan tidak ada bukti apapun.

Akhirnya malam kedua di bulan Purnama waktu yang telah ditentukan oleh Prabu Siliwangi datang juga, Beliau bersama Macan Putih menyirep agar semua rakyatnya tidak ada yang mengetahui satu juga pindahnya kerajaan Pajajaran dari alam nyata ke alam ghaib. Prabu Siliwangi langsung memindahkan kerajaan tersebut dengan orang-orangnya, memakai ilmu dengan dibantu oleh Macan Putih menghilang. Nah, semua negara kerajaan Pajajaran pindah dari alam nyata ke alam ghaib.

Begitulah kurang lebih Babad cerita mengenai sejarah dari Prabu Siliwangi dan kerajaan Pajajaran yang telah dipindahkan ke alam ghaib. 

Guru Spiritual: Syekh Quro Karawang
Selain dikenal sebagai raja besar, Prabu Siliwangi juga disebut dalam beberapa naskah Sunda Islam sebagai murid Syekh Quro Karawang, yaitu Syekh Hasanuddin bin Yusuf Al-Husainy, seorang ulama keturunan Rasulullah ﷺ yang bermadzhab Hambali.

Syekh Quro dikenal sebagai penyebar Islam pertama di tanah Sunda pada abad ke-14 M, dan ajarannya banyak mempengaruhi tokoh-tokoh besar setelahnya. Dari beliau, Prabu Siliwangi dikisahkan menerima ajaran tentang tauhid, keadilan, dan akhlak mulia, yang kemudian membentuk dasar ajaran Sunda Wiwitan bercorak monoteistik.

Maqom Prabu Siliwangi
Masyarakat Sunda meyakini bahwa Prabu Siliwangi tidak wafat secara jasmani, tetapi ngahiang lenyap ke alam gaib dalam cahaya spiritual. Salah satu tempat yang diyakini sebagai maqom (petilasan) beliau berada di Rancamaya, Bogor, yang hingga kini masih di ziarahi oleh banyak orang untuk mengenang kebijaksanaan sang Raja.

Selain Rancamaya, Majalengka (Curug Sawer-Telaga Herang) juga disebut sebagai tempat beliau terakhir muncul, disertai sinar cahaya putih dan suara Auman Maung Bodas yang melambangkan perpindahan beliau ke alam kasucian.

Curug Sawer Telaga Herang Majalengka
Curug Sawer Telaga Herang Majalengka


Warisan dan Nilai
Warisan Prabu Siliwangi tidak hanya berupa kerajaan Pajajaran, tetapi juga falsafah kehidupan Sunda yang luhur:
“Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh.”
Saling menasihati, saling mengasihi, dan saling menjaga dalam harmoni.

Ajaran ini menjadi pondasi budaya Sunda yang tetap hidup hingga kini, mengajarkan bahwa kekuasaan sejati bukan diukur dari senjata atau harta, melainkan kebijaksanaan dan pengabdian kepada kebenaran.

Prabu Siliwangi adalah simbol dari raja yang bijaksana, pemberani, dan spiritual, seorang pemimpin yang menyeimbangkan kekuatan lahir dan batin. Kisah beliau dengan maung bodas Si Tablo, Syekh Quro Karawang, serta maqom di Rancamaya menjadi cermin dari perjalanan rohani yang tinggi warisan abadi bagi bangsa Sunda dan Nusantara.

Semoga hal ini bisa menambah wawasan sejarah yang tidak boleh dilupakan oleh kita, bahwa nusantara indonesia ini mempunyai kultur budaya yang sangat beraneka ragam dan mistis yang kuat pada zaman dahulu. Semoga para pembaca bisa menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh SWT. Aamiin.



09 Februari 2025

Kota Seribu Satu Malam

Kota Seribu Satu Malam
Baghdad, ibukota Irak, tak hanya terkenal sebagai kota metropolitan terbesar di Timur Tengah, tetapi juga melegenda dengan julukan "Kota Seribu Satu Malam".

Julukan ini erat kaitannya dengan kisah epik "Alf Lailah wa Lailah" (Seribu Satu Malam) yang konon terinspirasi dari kemegahan Baghdad di masa lampau. Pertanyaannya, kenapa Baghdad dijuluki Kota Seribu Satu Malam..?, Artikel ini akan mengupas asal-usul julukan tersebut dan membawa Anda menyelami kisah kejayaan Baghdad di masa keemasannya. Kita akan menjelajahi bagaimana kota ini menjadi pusat peradaban dunia di bawah kepemimpinan Kekhalifahan Abbasiyah, serta peran Kisah Seribu Satu Malam dalam mengabadikan kemegahan Baghdad dan menginspirasi dunia.

Kisah Kejayaan Baghdad di Masa Silam

Kisah Seribu Satu Malam membawa pembacanya menjelajahi berbagai genre cerita, dari legenda, fabel, roman, hingga dongeng, dengan latar tempat yang beragam. Namun, Baghdad menjadi salah satu lokasi utama dalam kisah-kisah ini. Di sanalah diceritakan tentang kepemimpinan Harun Ar-Rasyid yang dihormati, serta kisah-kisah yang mencerminkan kejayaan budaya Baghdad di masa keemasannya sebagai pemimpin dunia Arab dan Islam.

Kejayaan Baghdad bukan hanya isapan jempol. Dalam sejarah, kota ini pernah menjadi pusat kerajaan Islam yang gemilang. Di bawah kepemimpinan Kekhalifahan Abbasiyah, seperti dilansir media Kompas Baghdad disulap menjadi pusat peradaban dunia. Berdirinya Baghdad pada tahun 762 M diprakarsai oleh Al-Mansur, khalifah kedua Dinasti Abbasiyah.

Puncak keemasannya tercapai di masa Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809), di mana Baghdad menjelma menjadi kota terkaya dan terdepan di bidang seni, ilmu pengetahuan, dan peradaban. Kisah Seribu Satu Malam menjadi bukti nyata kehebatan Baghdad. Cerita-ceritanya menggambarkan kekayaan, kemajuan teknologi, dan keberagaman budaya yang menyelimuti kota ini

Menurut Yaqubi, sejarawan dan ahli geografi abad ke-9, Baghdad pada masa itu menjadi salah satu kota paling maju dan dianggap sebagai pusat dunia bagi para ilmuwan, cendekiawan, pemusik, sejarawan, ahli hukum, dan filsuf.

Peradaban Baghdad yang gemilang ini bahkan menginspirasi bangsa Eropa yang saat itu tengah mengalami masa kegelapan ilmu pengetahuan, yang dikenal sebagai Abad Pertengahan.

Kemajuan dan kemegahan Baghdad di masa lampau tersebutlah yang kemudian melahirkan julukan "Negeri 1001 Malam" yang banyak disebut dalam Kisah Seribu Satu Malam. Melalui kisah-kisah magisnya, Kisah Seribu Satu Malam telah mengantarkan Baghdad menjadi legenda abadi, sebuah kota yang tak lekang oleh waktu.

Julukan "Kota Seribu Satu Malam" menjadi pengingat akan kemegahan Baghdad di masa lampau, sebuah peradaban yang tak hanya kaya akan budaya dan ilmu pengetahuan, tetapi juga menginspirasi kemajuan dunia. Kini, Baghdad masih menyimpan jejak-jejak kejayaannya, mengundang para penjelajah untuk menyelami kisah-kisah magis dan merasakan atmosfer kota yang pernah menjadi pusat peradaban dunia tersebut.

Note :

Jika informasi ini dirasa menarik kamu bisa membagikannya kepada teman-teman kamu di media sosial kamu ini agar teman-temanmu juga bisa mengerti tentang hal ini. Jika kamu punya versi lainnya tentang artikel ini kamu bisa membagikannya di kolom komentar.

Asal-Usul Airlangga

 ASAL-USUL AIRLANGGA, RAJA JAWA YANG SEMPAT JADI GLANDANGAN

Asal-Usul Airlangga, Raja Jawa Yang Sempat Jadi Glandangan
Airlangga adalah Raja dari Kerajaan Medang Kemulan pertama, sebelum menjadi Raja ia pernah menggalndang beratahun-tahun karena ia berkedudukan sebagai Pelarian. Meskipun demikian pada akhirnya Airlangga sukses menjadi Raja.

Hingga saat ini nama raja Airlangga masih dikenang di dalam ingatan masyarakat Jawa dan di berbagai cerita rakyat juga literatur, serta sering diabadikan namanya di berbagai tempat di Indonesia. Airlangga bermakna "air yang melompat", dikisahkan Airlangga berhasil lolos dari peristiwa Mahapralaya atau ("bencana besar") yang dianggap bagai air bah. Sehingga Airlangga juga adalah julukan bermakna sebagai air yang melompat. Ia lahir tahun 990. Ayahnya bernama Udayana, raja kerajaan Bedahulu dari wangsa Warmadewa. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri wangsa Isyana dari kerajaan Medang. Waktu itu Medang menjadi kerajaan yang cukup kuat, bahkan mengadakan penaklukan ke Bali, mendirikan koloni di Kalimantan Barat, serta mengadakan serangan ke Sriwijaya.

Airlangga memiliki dua orang adik, yaitu Marakata Pangkaja (menjadi raja Bali sepeninggal ayah mereka) dan Anak Wungsu (naik takhta sepeninggal Marakata). Dalam berbagai prasasti yang dikeluarkannya, Airlangga mengakui sebagai keturunan dari raja Mpu Sindok dari wangsa Isyana yang memindahkan pusat kekuasaan Kerajaan Medang dari bhumi Mataram di Jawa Tengah ke Jawa Timur, atau lazim disebut dengan Medang periode Jawa Timur.

Airlangga menikah dengan putri pamannya yaitu Dharmawangsa Teguh (saudara ibunya Mahendradatta) di Wwatan, ibu kota Kerajaan Medang (sekarang sekitar Maospati, Magetan, Jawa Timur). Ketika pesta pernikahan sedang berlangsung, tiba-tiba kota Wwatan diserbu Raja Wurawari yang berasal dari Lwaram (diperkirakan sekarang adalah sekitar Ngloram, Cepu, Blora), yang merupakan sekutu dari Kerajaan Sriwijaya yang mendapat dukungan kuat dari wangsa Syailendra untuk memberontak. Kejadian tersebut tercatat dalam prasasti Pucangan (atau Calcutta Stone). Yang dianggap sebagai bencana Mahapralaya layaknya air bah yang mematikan, pembacaan Kern atas prasasti tersebut yang juga dikuatkan oleh de Casparis, menyebutkan bahwa penyerangan tersebut terjadi tahun 938 Saka, atau sekitar 1016 M.

Dalam serangan itu, Dharmawangsa Teguh dan seluruh kerabat raja tewas, istana Wwatan turut dibakar, sedangkan Airlangga yang merupakan menantu sekaligus keponakannya beserta putri Dharmawangsa berhasil lolos dari maut ke hutan pegunungan (Vana giri) Wonogiri ditemani pembantunya yang bernama Mpu Narotama. Saat itu ia berusia 26 tahun, dan mulai menjalani hidup sebagai pertapa. Salah satu bukti petilasan Airlangga sewaktu dalam pelarian dapat dijumpai di Sendang Made, Kudu, Jombang, Jawa Timur.

Pada saat pelarian dan dalam masa persembunyiannya dengan kalangan pertapa, setelah melewati tiga tahun hidup di dalam hutan pada tahun 1019, Airlangga didatangi utusan rakyat beserta senopati yang masih setia, menyampaikan permintaan agar dirinya mendirikan dan membangkitkan kembali sisa-sisa kejayaan Medang. Atas dukungan dari para pendeta dari ketiga Aliran (Hindu, Buddha, dan Mahabrahmana) ia kemudian membangun kembali sisa-sisa kerajaan Medang yang istananya telah hancur tersebut.

Mengingat kota Wwatan sudah hancur, Airlangga pun membangun ibu kota baru bernama Watan Mas di lereng Gunung Penanggungan.Nama ini masih dipakai sebagai nama suatu desa (Desa Wotan Mas Jedong) di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Ketika Airlangga naik takhta, wilayah kerajaannya hanya meliputi daerah Mojokerto, Sidoarjo dan Pasuruan saja, karena sepeninggal raja Dharmawangsa Teguh, banyak daerah bawahan yang melepaskan diri.

Pada tahun 1025, Kedatuan Sriwijaya di Sumatra yang merupakan musuh besar dari wangsa Isyana dikalahkan oleh Rajendra Coladewa raja dari Colamandala Kerajaan Chola, India. Hal ini menjadi sebuah kesempatan dan membuat Airlangga lebih leluasa dalam mempersiapkan diri untuk menaklukkan Pulau Jawa.


Wallahu a'lam,
Semoga bermanfaat

28 September 2023

Cerita Rakyat Roro Jonggrang

 Cerita Rakyat Roro Jonggrang, Sosok Perempuan yang Melegenda

Roro Jonggrang merupakan tokoh legenda yang diyakini berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Kisah cintanya bersama Bandung Bondowoso kian melegenda hingga sekarang.

Candi Prambranan

Diketahui bahwa Roro Jonggrang merupakan putri dari Prabu Baka dari Kerajaan Prambanan. Di suatu pertempuran, sang Ayah gugur di tangan Bandung Bondowoso yang saat itu menjadi bagian dari Kerajaan Pengging. Roro Jonggrang juga dikenal dengan kecantikannya yang digadang mampu memikat Bandung Bondowoso.

Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Prambanan. Kerajaan itu dipimpin oleh Prabu Baka. Prabu Baka adalah raja yang sangat baik. Rakyat kerajaan Prambanan pun hidup makmur.

Sementara itu, di tempat lain, ada sebuah kerajaan bernama Kerajaan Pengging. Berbeda dengan Prabu Baka, Raja Pengging memiliki sifat yang sangat buruk. la suka berperang untuk memperluas kekuasaan kerajaannya. Kerajaan Pengging memiliki ksatria sakti bernama Bondowoso. Bondowoso memiliki senjata yang sangat kuat dan pasukan jin. Bondowoso lebih dikenal sebagai Bandung Bondowoso. Suatu hari, Raja Pengging ingin menaklukkan Kerajaan Prambanan. Ia pun memanggil Bandung Bondowoso untuk merebut Kerajaan Prambanan.

“Aku perintahkan kau dan pasukanmu untuk merebut Kerajaan Prambanan!” perintah Raja Pengging. Bandung Bondowoso langsung menjalankan tugasnya. Ia dan pasukannya menyerang Kerajaan Prambanan. Dengan sangat mudah, Bandung Bondowoso berhasil menaklukkan Kerajaan Prambanan. Prabu Baka pun tewas. 

Sebagai hadiah, Raja Pengging mengizinkan Bandung Bondowoso untuk mengurus Kerajaan Prambanan. Ternyata Kerajaan Prambanan memiliki seorang putri yang cantik jelita bernama Roro Jonggrang. Bandung Bondowoso pun memanggil Roro Jonggrang untuk menghadap. “Apa yang kau inginkan, Bandung Bondowoso?” tanya Roro Jonggrang dengan ketus. “Aku ingin menikahimu. Menikahlah denganku, pasti kehidupanmu akan tenteram dan damai,” ungkap Bandung Bondowoso.

Tentu saja, Roro Jonggrang kaget. Ia tak menyangka Bandung Bondowoso akan melamarnya. Padahal, Roro Jonggrang tak suka dengan Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso adalah orang yang kejam. Ia telah membunuh ayahnya, dan membuat rakyat Kerajaan Prambanan sengsara. Dengan tegas, Roro Jonggrang menolak pinangan Bandung Bondowoso. Mendengar penolakan itu, Bandung Bondowoso tidak terima. Ia pun mengancam Roro Jonggrang. “Jika kau tidak mau menikah denganku, hidupmu akan sengsara. Semua penduduk desa pun akan kubuat menderita,” ancam Bandung Bondowoso.

Seketika, Roro Jonggrang menjadi ragu. “Aku izinkan kau berpikir terlebih dahulu,” ucap Bandung Bondowoso. Roro Jonggrang merasa bingung dengan pinangan Bandung Bondowoso. Jika ia tidak menerima pinangan Bandung Bondowoso, rakyatnya akan sengsara. Tapi, ia tidak suka dengan Bandung Bondowoso. 

Semalaman Roro Jonggrang berpikir, bagaimana cara menolak pinangan Bandung Bondowoso, tapi rakyatnya tetap aman. Akhirnya, Roro Jonggrang memiliki sebuah ide. Esok siangnya, Bandung Bondowoso menemui Roro Jonggrang. “Sudahkah kau memutuskan pilihanmu, Roro Jonggrang?” tanya Bandung Bondowoso. “Baiklah, Bandung Bondowoso. Aku mau menikah denganmu, asalkan kau bisa memenuhi syarat dariku.” ucap Roro Jonggrang. “Apa syaratmu?” tanya Bandung Bondowoso dengan congkak. 

“Buatlah 1000 candi dan dua buah sumur dalam waktu satu malam,” ujar Roro Jonggrang. Ia yakin, Bandung Bondowoso tak bisa memenuhi syaratnya itu. Tanpa berpikir lama, Bandung Bondowoso langsung menyetujui syarat dari Roro Jonggrang. 

Malam harinya, Bandung Bondowoso dibantu oleh pasukan jinnya, membangun 1000 candi dan 2 sumur. Roro Jonggrang yang diam-diam menyaksikan hal itu, menjadi gelisah. Perkiraannya salah. Pasukan Bandung Bondowoso sangat cepat menyelesaikan pembangunan itu. Waktu sudah menginjak tiga per empat malam. 

Tinggal dua candi yang belum dibangun. “Bagaimana caranya menggagalkan usaha mereka?” pikir Roro Jonggrang. Roro Jonggrang kembali memiliki sebuah ide. Ia memanggil semua dayang di istana, dan menyuruh mereka untuk membakar jerami di sebelah timur. Sebagian lain membunyikan lesung, dan menebarkan bunga yang wangi. Tujuannya agar ayam-ayam lekas bangun dan berkokok. 

Tanpa membuang waktu, para dayang segera melakukan perintah itu. Benar saja, ayam-ayam jantan terbangun dan mulai berkokok. Mendapati langit di timur berwarna merah, bunyi lesung, aroma wangi bunga, dan kokokan ayam, bala tentara Bandung Bondowoso bergegas pergi. Ya! Mereka mengira hari sudah pagi. Mendapati bala tentaranya pergi, Bandung Bondowoso menghentikan mereka. “Kembalilah pasukanku. Hari belum pagi! Masih ada satu candi lagi yang harus kalian bangun!” teriak Bandung Bondowoso. 

Sayang, bala tentara Bandung Bondowoso tetap pergi meninggalkan pekerjaannya. Semakin marahlah Bandung Bondowoso saat mengetahui bahwa semua itu ulah Roro Jonggrang. Ia menemui Roro Jonggrang, dan mengubah Roro Jonggrang menjadi candi. Kini, candi itu bernama Candi Roro Jonggrang, dan dapat ditemui di Candi Prambanan. Demikian kisah tentang cerita rakyat Roro Jonggrang yang terkenal dengan kisah cintanya. Pada akhirnya, Roro Jonggrang tetap enggan menerima pinangan Bandung Bondowoso.

08 Januari 2023

Sakura Garden AEON Mall

Bertandang di Dunia Antah Berantah Bernuansa Jepang: Sakura Garden AEON Mall

Jalan-jalan di mall tidak selamanya seperti yang biasanya Anda lakukan di kota lain di Indonesia. AEON Mall dijamin sanggup mengubah pendapat Anda dan membuat betah nongkrong di mall berjam-jam.

Seperti kebanyakan mall lainnya, AEON menyediakan pusat perbelanjaan, gaming center,  bioskop, dan yang tidak pernah ketinggalan tentu saja tempat makan paling hits di Tangerang saat ini.  Tapi Anda sudah coba mengintip Sakura Garden-nya?

Sakura Garden, atau dalam bahasa Indonesia, taman sakura, yang terletak di pelataran mall dekat area parkir membawa Anda larut dalam suasana khas Jepang yang bertabur bunga sakura warna-warni.

Sakura Garden AEON Mall
Paling pas menatap gemerlap indahnya taman bunga ini di senja hingga malam hari. Gelapnya langit senja berpadu kontras dengan gemerlap cahaya lampu warna-warni dari taman, indah nan elok di mata.

Capek mengelilingi seluruh taman seusai mencari spot strategis berfoto? Anda bisa duduk nyaman sambil bersantai diiringi cahaya lampu warna-warni dan menikmati geliat malam sekitar, spot romantis untuk bercengkerama
Sakura Garden AEON Mall

Sebagai penutup hari, Anda bisa bersantap di restoran Jepang yang senada dengan konsep taman sakura. Ada Ebisoba Ichigen atau Uchino Shokudo yang siap membantu Anda memulihkan tenaga sambil santap lahap.

Sakura Garden AEON Mall
Sakura Garden AEON Mall berlokasi di AEON Mall, Jalan BSD Raya Utama, Sampora, Cisauk, Tangerang

Jam Operasional: 10.00 – 22.00
Cara ke Sana: Dengan kendaraan umum, Anda bisa naik KRL Commuter Green Line (Serpong Line) dari Stasiun Tanah Abang dengan tujuan berhenti di Stasiun Rawa Buntu, dilanjutkan naik ojek atau angkutan kota ke lokasi.

Wisata Kandang Godzilla Tebing Koja

Sensasi Mendebarkan di Tempat Spektakuler Kandang Godzilla, Tebing Koja

Masuk kandang Godzilla..? Asyik atau berbahaya..? Mungkin Anda penggemar film seri kadal raksasa ini berpikir dua kali untuk mengunjungi wahana wisata satu ini.

Jangan takut! Ini bukan sungguh-sungguh kandang Godzilla kok, melainkan tempat wisata alam yang dipenuhi susunan batu tebing nan kokoh berserakan serta hijau pohon di sana-sini.

Wisata Kandang Godzilla Tebing Koja

Tebing Koja, nama lokasi wisata alam terkemuka di area Tangerang, memang sangat artistik secara alamiah. Bebatuan tebing curam hasil pahatan alam berpadu harmonis dengan liukan sungai dan hijaunya sawah.

Serasa di puncak dunia, berdiri di ujung tebing memandangi alam sekitar. Mungkin Anda juga betah bersarang berlama-lama di sini?

Wisata Kandang Godzilla Tebing Koja
Pose asyik dengan latar belakang biru sungai dan hijau sawah, momen kebersamaan dengan sahabat dan keluarga yang selalu terkenang.

Hijau sawah kemuning di bawah sinar matahari senja menjadi penghias perjalanan Anda selama berdiam di sarang “kadal raksasa”.
Wisata Kandang Godzilla Tebing Koja
Di akhir hari, momen matahari keemasan di atas bukit layak diabadikan menjadi pengingat kunjungan sehari di Kandang Godzilla.

Kandang Godzilla Tebing Koja berlokasi di desa Cikuya, Solear, Tangerang
Jam Operasional: 07.00-18.00
Tiket Masuk: Rp2.000/orang

Cara ke Sana: Berangkat dari Jakarta melalui Cawang dan menempuh jalan tol ke arah Grogol, kemudian pilih ruas jalan tol ke arah Merak. Setelah keluar dari jalan tol, perjalanan bisa dilanjutkan ke Jalan Raya Serang dan pilih jalan ke Cisoka. Setelah sampai di perempatan Tigaraksa, pilih arah lurus ke Tebing Koja. Perjalanan dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi dari Jakarta maupun dengan KRL Commuter Line arah Tanah Abang-Maja. Perjalanan dengan kereta dapat ditempuh dari stasiun akhir Tigaraksa. Dari stasiun hingga Tebing Koja dapat ditempuh dengan angkot rute Adiyasa-Balaraja, dilanjutkan dengan ojek atau berjalan kaki hingga lokasi.