Biografi KH Abdul Wahab Hasbullah, Pahlawan Nasional - Legenda dan Cerita Rakyat Nusantara Biografi KH Abdul Wahab Hasbullah, Pahlawan Nasional - Legenda dan Cerita Rakyat Nusantara

19 April 2026

Biografi KH Abdul Wahab Hasbullah, Pahlawan Nasional

Profil Lengkap KH Abdul Wahab Hasbullah: Sang Inisiator Nahdlatul Ulama dan Pahlawan Nasional

Foto KH Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU

KH. Abdul Wahab Hasbullah (Mbah Wahab) adalah ulama kharismatik yang dikenal sebagai "Bapak Pendiri Nahdlatul Ulama (NU)". Beliau merupakan sosok multi bakat: seorang organisator ulung, politisi cerdas, pejuang kemerdekaan, sekaligus pendidik pesantren yang berpandangan modern.

Biodata dan Silsilah
  • Nama Lengkap: KH Abdul Wahab Hasbullah
  • Lahir: 31 Maret 1888, di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur
  • Wafat: 29 Desember 1971 (Usia 83 tahun)
  • Orang Tua: Putra pertama dari KH Hasbullah Said (pengasuh Pesantren Tambakberas) dan Nyai Hj. Lathifah
  • Hubungan Keluarga: Silsilah beliau bertemu dengan KH Hasyim Asy'ari pada datuk yang sama, yaitu Kiai Shihah.

Riwayat Pendidikan: Pengembaraan Ilmu 20 Tahun

Masa muda Mbah Wahab dihabiskan untuk menimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain selama kurang lebih 20 tahun:
  • Pendidikan Dasar:Dibimbing langsung oleh ayahnya di Pesantren Tambakberas hingga usia 13 tahun.
  • Pesantren di Jawa: Nyantri di Pesantren Langitan (Tuban), Mojosari (Nganjuk), Tawangsari (Sepanjang), hingga berguru pada Syaikhona Kholil Bangkalan (Madura).
  • Pesantren Tebuireng: Menjadi murid langsung Hadratusy-syekh KH. Hasyim Asy'ari.
  • Mekah (1914): Belajar selama 5 tahun di tanah suci di bawah bimbingan Syekh Mahfudz at-Tarmasi dan Syekh Said al-Yamani.

Peran Kunci dalam Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU)

Mbah Wahab adalah motor penggerak utama lahirnya NU pada 31 Januari 1926. Sebelum NU resmi berdiri, beliau menginisiasi beberapa organisasi perintis:
  • Tashwirul Afkar (1914):Forum diskusi intelektual dan kursus perdebatan bagi santri di Surabaya.
  • Nahdlatul Wathan (1916): Organisasi pemuda Islam yang menanamkan rasa nasionalisme (Kebangkitan Tanah Air).
  • Nahdlatut Tujjar (1918): Organisasi pemberdayaan ekonomi kaum santri.
  • Komite Hijaz: Delegasi yang dikirim ke Mekah untuk memperjuangkan kebebasan bermazhab di depan Raja Ibnu Saud.

Kontribusi bagi Bangsa dan Kemerdekaan

Beliau tidak hanya berjuang di atas mimbar, tetapi juga di medan pertempuran dan diplomasi:
  • Panglima Laskar Hizbullah: Memimpin laskar santri dalam melawan penjajah Jepang dan Belanda.
  • Pencipta Lagu "Ya Lal Wathon": Lagu semangat nasionalisme yang diciptakan tahun 1934 untuk menumbuhkan cinta tanah air di kalangan santri.
  • Negarawan: Pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan aktif meredam gejolak politik di era Presiden Soekarno.
  • Pelopor Kebebasan Berpikir: Menggagas sistem kepemimpinan dua badan di NU (Syuriyah dan Tanfidziyah) untuk menyatukan kaum tua dan muda.

Penghargaan dan Warisan

Atas jasa-jasanya yang luar biasa bagi kemerdekaan dan keutuhan NKRI, KH. Abdul Wahab Hasbullah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada 7 November 2014. Beliau dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Ijazah Amalan "Huwal Habib"

Salah satu ijazah amalan yang paling masyhur dari KH. Abdul Wahab Hasbullah adalah pembacaan penggalan Qasidah Burdah, khususnya bait "Huwal Habib". Mbah Wahab sering memberikan ijazah ini kepada para santrinya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, terutama saat menghadapi situasi genting atau urusan besar bagi bangsa dan Nahdlatul Ulama.

Teks Amalan:

هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ

Huwal habiibulladzii turjaa syafaa’atuhu, likulli hawlin minal ahwaali muqtahimi)


Waktu Pengamalan: Biasanya dibaca secara rutin setiap habis salat Maghrib.

Tujuan/Fadhilah: Digunakan sebagai ikhtiar batin untuk memohon pertolongan Allah agar segala urusan dipermudah, dijauhkan dari malapetaka, serta diberikan kelancaran dalam perjuangan.

Tata Cara Mengamalkan (Berdasarkan Tradisi Tambakberas):

Menurut penuturan para pengasuh di Pesantren Tebuireng dan Tambakberas, ijazah ini sering diawali dengan tawasul:
  • Tawasul (Kirim Fatihah): Khususnya kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, dan KH Abdul Wahab Hasbullah.
  • Membaca Surat Pendek: Al-Fatihah, Al-Ikhlas, An-Nas, Al-Falaq, dan Ayat Kursi.
  • Membaca Sholawat Burdah: Bait Huwal Habib dibaca berulang kali sesuai arahan atau kebutuhan.

Pesan Bijak Mbah Wahab untuk Generasi Masa Kini

Tentang Persatuan: "Tidak ada senjata yang lebih tajam selain persatuan." (Pesan ini sering beliau sampaikan untuk mengingatkan betapa pentingnya ukhuwah di tengah perbedaan).
Tentang Keberanian dan Perjuangan: "Jadilah kiai yang berjiwa pejuang, jangan menjadi kiai yang hanya menunggu pemberian."
Tentang Cinta Tanah Air (Hubbul Wathon): "Indonesia adalah rumah kita. Menjaganya adalah bagian dari iman, membela kehormatannya adalah kewajiban setiap jiwa." (Semangat ini tercermin jelas dalam lirik lagu Ya Lal Wathon yang beliau ciptakan).
Tentang Perubahan Zaman: "Kita harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, namun jangan pernah melepaskan akar tradisi dan nilai-nilai luhur agama kita."
Pesan untuk Santri dan Pemuda: "Santri harus mampu menjadi penerang di tengah kegelapan, bukan sekadar penonton di pinggir jalan sejarah."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar