Blog ini menghadirkan berbagai legenda dan cerita rakyat Nusantara yang sarat makna. Dari kisah rakyat Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, hingga Papua — semua mengandung nilai luhur dan kearifan lokal bangsa Indonesia.
Lagu-lagu pramuka yang ber-irama cerdas dan riang selalu setia menemani anggota pramuka, baik pada saat latihan rutin maupun berkemah, mengajak generasi bangsa untuk selalu memiliki jiwa dan keyakinan yang mantap dalam mengisi pembangunan nasional.
Lagu anak Indonesia walaupun lirik lagunya singkat tapi isinya syarat dengan pesan orang tua terhadap anaknya. Bagi ada yang mempunyai anak kecil, sangat baik jika menguasai lagu-lagu khusus untuk anak-anak karena disamping liriknya mudah diingat juga lagu lagu tersebut mengandung pesan moral yang baik bagi anak kita tercinta.
Nusantara Indonesia yang bergitu luas terdiri dari beragam macam etnis dan suku budaya yang masing-masing memiliki kebudayaan yang berbeda satu sama lainnya. Salah satu budaya daerah yang selalu menjadi kebanggaan daerah masing-masing bahkan menjadi kebanggaan nasional adalah berupa Lagu Daerah.
Lagu atau musik perjuangan ialah lagu yang membangkitkan semangat persatuan untuk melawan penjajah. Mengingat, mengenang, memperkenalkan kepada generasi muda bangsa indonesia bagaimana semangat dan perjuangan pahlawan-pahlawan yang telah berjasa membela negara di masa lampau.
Indonesia kaya akan Keindahan alamnya, masing-masing punya pesona dan keistimewaan khas tersendiri yang tak akan dapat ditemukan di belahan bumi manapun. Tidak hanya itu, tempat wisata buatan pun juga ikut meramaikan bursa tempat wisata pilihan di indonesia. Dengan mengetahuinya kita akan tertarik, namun dengan menyaksikannya langsung akan membuat decak kagum terpesona.
Indonesia sebagai bangsa yang besar dan memiliki keanekaragaman suku dan budaya memiliki jutaan warisan karya kebudayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan oleh seluruh anak bangsa, seringnya budaya milik indonesia yang diklaim sebagai budaya asli negara lain.
Keadaan Orang Tua Setelah Meninggal Dunia dan Menunggu Kiriman Doa dari Anaknya (Menurut Al-Qur’an dan Hadits)
Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kehidupan baru di alam barzakh. Dalam ajaran Islam, ruh orang yang telah meninggal tetap hidup dalam dimensi yang berbeda. Mereka dapat merasakan kebahagiaan atau kesedihan sesuai dengan amal perbuatannya semasa hidup. Bagi orang tua yang telah wafat, ada satu hal yang sangat mereka nantikan dari dunia: doa dari anak-anaknya.
1. Kehidupan Setelah Kematian Menurut Al-Qur’an
Allah ﷻ menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa setelah kematian, manusia akan memasuki alam barzakh yaitu tempat menunggu sampai hari kebangkitan.
“Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding pembatas) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)
Ayat ini menegaskan bahwa setelah meninggal, ruh seseorang berada di alam penantian. Di sana, mereka bisa mendapatkan nikmat kubur atau azab kubur, tergantung amal mereka di dunia.
2. Orang Tua yang Beriman Akan Mendapat Nikmat di Alam Kubur
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila seorang hamba diletakkan di kuburnya, lalu ia menjawab pertanyaan malaikat dengan benar, maka dibukakanlah untuknya pintu surga. Ia pun mencium baunya dan merasa tenang.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Bagi orang tua yang beriman, kuburnya menjadi taman dari taman-taman surga. Ruh mereka mendapatkan ketenangan, terutama jika mereka memiliki anak-anak saleh yang senantiasa mendoakan.
3. Doa Anak: Hadiah Terindah untuk Orang Tua
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa doa anak saleh tidak hanya sampai kepada orang tua, tetapi juga menjadi sebab kebahagiaan dan cahaya bagi mereka di alam kubur. Setiap kali seorang anak membaca Al-Fatihah, istighfar, atau sedekah atas nama orang tuanya pahala itu langsung dikirimkan kepada ruh mereka.
4. Ruh Orang Tua Menunggu Kiriman Doa dari Dunia
Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa ruh orang yang telah wafat mengetahui amalan keluarganya di dunia. Para ulama menjelaskan bahwa ruh orang beriman merasa gembira ketika mendapatkan kiriman doa, dan bersedih ketika keluarganya lupa mendoakannya.
Imam As-Suyuthi dalam Syarh As-Sudur menulis:
“Sesungguhnya mayit bergembira dengan kebaikan yang dilakukan oleh keluarganya, dan pahala amalan itu disampaikan kepada mereka.”
Oleh karena itu, doa anak sangat berarti bagi orang tua. Mereka menunggu kiriman doa seperti seseorang yang menunggu kabar gembira dari orang yang dicintai.
5. Cara Anak Mengirimkan Doa untuk Orang Tua
Berikut amalan sederhana yang bisa dilakukan agar orang tua mendapatkan ketenangan di alam kubur:
Membaca Al-Fatihah dan menghadiahkannya untuk ruh kedua orang tua.
➤ “Ilā ruhi abī wa ummī, Al-Fātiḥah…”
Membaca istighfar:
➤ “Allahummaghfir liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira”
Bersedekah atas nama orang tua
Sedekah apa pun, baik makanan, uang, atau bantuan kepada yang membutuhkan.
Menjaga amal saleh dan akhlak baik, karena itu menjadi kebanggaan ruh orang tua di alam kubur.
6. Tanda Orang Tua Bahagia di Alam Kubur
Beberapa tanda ruh orang tua yang tenang dan bahagia di alam barzakh menurut penjelasan ulama:
Anak-anaknya rajin berdoa dan beramal saleh.
Ada ketenangan dalam keluarga setelah kepergian mereka.
Mimpi indah melihat orang tua tersenyum atau berpakaian putih.
Hati terasa damai setiap kali mendoakan mereka.
Tanda-tanda ini adalah pertanda baik bahwa doa anak diterima dan ruh orang tua mendapatkan ketenangan.
Kesimpulan
Setelah meninggal dunia, orang tua kita tidak hilang begitu saja. Mereka menunggu kiriman doa, bacaan Al-Fatihah, dan sedekah dari anak-anaknya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Anak saleh yang mendoakan orang tuanya” adalah amal yang terus mengalirkan pahala dan menjadi sumber kebahagiaan di alam kubur.
Maka, jangan lewatkan hari tanpa mendoakan mereka. Sebab, doa seorang anak adalah cahaya yang menerangi kubur orang tua.
"Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.".(QS. Al Baqarah [2]: 168)
Dalam kehidupan ini, anda harus mengetahui musuh nyata yang ada dalam diri anda. Musuh anda bukanlah teman yang dengki kepada anda, bukanlah saudara yang membenci anda, ataupun orang lain yang ingin mencelakakan dan menjatuhkan anda. Tetapi ketahuilah bahwa musuh anda sesungguhnya adalah setan yang akan selalu menyesatkan anda dari jalan kebenaran dan menginginkan anda untuk bersamanya di neraka kelak, selain itu musuh yang harus anda lawan adalah Hawa Nafsu yang ada pada diri anda.
Setan
Setan dan hawa nafsu adalah sesuatu yang saling berkaitan untuk menjerumuskan manusia kedalam kenistaan dan ikut bersama dengan mereka di neraka kelak selama-lamanya. Setan tidak akan pernah bosan dan menyerah untuk menggoda anak cucu nabi Adam sesuai dengan permintaannya kepada Allah SWT ketika diusir dari surga yang bunyinya:
"Ia (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur".(QS. Al-A’raf [7]: 16-17).
Maksud dari ayat di atas adalah Allah menjadikan iblis/setan sebagai orang yang tersesat karena telah membantah perintah Allah untuk hormat kepada nabi Adam AS dan takabbur, menganggap dirinya lebih mulya dari nabi Adam. Setelah itu Allah mengusir iblis dari surga dan iblis pun mengatakan bahwa ia akan selalu mengganggu anak cucu nabi Adam untuk ingkar kepada Allah dan menjadi teman mereka selamanya di dalam neraka. Iblis akan melakukan hal apapun untuk dapat menyesatkan manusia, ia akan mengepung manusia lewat depan, belakang, samping kanan, samping kiri sampai manusia tersebut ikut dengan mereka sehingga mereka tidak selamat dan binasa sebagaimana Iblis.
Bagaimana Mungkin Allah Subhanahu Wa ta’ala Menjadikan Iblis Tersesat.? Padahal Allah Tidak Memiliki Sifat Kekurangan!
Maka jawabannya adalah bahwa kehendak (Iradah) Allah Subhanahu Wata’ala ada dua, yaitu : Iradah kauniyah dan Iradah Syar’iyah. Iradah Kauniyah adalah kehendak yang di inginkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk terjadi di alam semesta, namun tidak mesti hal tersebut disukai Allah, sedangkan Iradah Syar’iyah adalah keinginan yang Allah sukai, namun hal itu tidak mesti terjadi. Semua ini terjadi karena hikmah dan keadilan Allah Subhanahu Wata’ala. Allah-lah yang maha mengetahui segala hikmahnya dan Allah maha adil dengan seluruh yang Dia lakukan. ini merupakan sifat Allah yang maha sempurna.
Oleh karena itu, Imam al-Qurthubi rahimahullah menegaskan hal ini di dalam tafsirnya. Beliau rahimahullah berkata: “Madzhab Ahlussunnah menyatakan bahwa Allah Azza wa Jalla yang telah menjadikannya tersesat dan menciptakan kekufuran pada dirinya." Oleh karena itu, dalam ayat ini perbuatan yang menjadikan iblis sesat disandarkan kepada Allah Azza wa Jalla. Dan inilah yang benar. Tidak ada sesuatu apapun yang ada kecuali dia adalah ciptaan Allah Azza wa Jalla yang berasal dari kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala . Aliran al-Imamiyah, al-Qadariyah dan aliran yang lain telah menyelesihi syaikh (guru mereka), yaitu iblis, yang mana mereka mentaati iblis pada segala sesuatu yang dihiasi oleh iblis untuk mereka, tetapi tidak mentaatinya di dalam permasalahan ini. Mereka berkata, “Iblis telah berbuat kesalahan. Dan dia memang sering salah, karena dia telah menyandarkan kesesatan kepada Rabb-nya. Maha suci Allah dari hal tersebut.” Maka kita katakan kepada mereka (para pengikut aliran-aliran sesat tersebut), ‘Jika iblis (memang demikian), dia benar-benar sering berbuat kesalahan, lalu bagaimana pendapat kalian tentang perkataan Nabi yang mulia lagi ma’shûm (terjaga dari kesalahan), yaitu Nabi Nuh Alaihissallam. Beliau telah berkata kepada kaumnya:
"Nasihatku tidak akan bermanfaat bagimu sekalipun aku ingin menasihatimu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan" (QS. Hud [11]: 34)
Siapakah yang Bisa Selamat dari Iblis/Setan.?
Allah SWT. Berfirman dalam Surat Ash-Shaad Ayat 82-85 yang artinya:
"(Iblis) berkata, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali, hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka. (Allah) berfirman, “Maka, yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Aku katakan. Aku pasti akan memenuhi (neraka) Jahanam denganmu dan orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.”(QS. Ash-Shaad [38]: 82–85)
Orang yang bisa selamat dari setan adalah mereka yang benar-benar percaya kepada Allah dan tidak menyembah selain Allah, orang-orang yang terjaga prilaku dan keimanannya. Harus kita ketahui bahwa iblis akan selalu menggoda manusia hingga mereka ikut dengannya, tetapi orang-orang yang tetap taat kepada Allah dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya lah yang akan selamat dari godaan setan/iblis dan ia akan masuk ke dalam surga-Nya bersama orang-orang yang taat, tetapi orang-orang yang menyekutukan Allah dan menyembah setan maka ia akan selama-selamanya di neraka Jahannam bersama setan yang mereka puja/sembah.
Hawa Nafsu
Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan: “Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya” (Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal.3).
Hawa nafsu dinamakan juga Al-Hawa karena bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kenistaan atau ke dalam neraka. Orang yang menuruti kemauan hawa nafsu, hakikatnya untuk mencari kenikmatan semu dan kepuasan sesaat yang ada di dunia, tanpa berpikir panjang akibat yang akan mereka tanggung. Hawa nafsu akan timbul ketika kita menginginkan sesuatu dan hal tersebut harus tercapai dengan cara apapun meskipun bertentangan dengan agama. Contohnya memuaskan hasrat dengan bercinta, ingin makan dan minum, ingin marah kepada seseorang, dan masih banyak lagi contoh tentang hawa nafsu.
Apakah Hawa Nafsu Merupakan Hal Tercela.?
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya tersebut bahwa hawa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, kalaulah tidak ada nafsu makan, minum dan nikah, tentulah manusia akan mati dan punah, karena tidak makan, minum dan menikah. Hawa nafsu mendorong manusia meraih perkara yang diinginkannya, sedangkan marah mencegahnya dari perkara yang mengganggunya dalam kehidupannya. Maka tidak selayaknya hawa nafsu dicela atau dipuji secara mutlak tanpa pengecualian. Sebagaimana marah tidak boleh dicela atau dipuji secara mutlak pula.
Allah mencela ittiba’ul hawa (mengikuti hawa nafsu) di beberapa ayat yang banyak dalam Al-Qur'an, diantaranya adalah firman-Nya dalam Surat Al-Jatsiyah dan Al-Qashash.
"Tahukah kamu (Nabi Muhammad), orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan-Nya, Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya, siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Apakah kamu (wahai manusia) tidak mengambil pelajaran?" (QS. Al-Jaatsiyah [45]: 23)
"Jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. Al-Qashash [28]: 23)
Sesuai keterangan diatas maka pada asalnya hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang disukainya, lalu jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai dengan syari’at, maka terpuji, namun sebaliknya, jika kecondongannya kepada sesuatu yang bertentangan dengan syari’at, maka tercela. Sedangkan jika disebutkan hawa nafsu secara mutlaq tanpa terikat dalam kondisi tertentu atau disebutkan tentang celaan terhadap hawa nafsu, maka yang dimaksudkan dalam konteks itu adalah hawa nafsu yang tercela.
Jadi, Ia lawan atau kawan? Dalam menjalani kehidupan, hawa nafsu yang terpuji ibarat teman perjalanan bagi Anda, sedangkan hawa nafsu yang tercela adalah musuh Anda.
Hawa Nafsu Meliputi Dua Hal: Syubhat dan Syahwat
Mengikuti hawa nafsu yang tercela, bisa dalam masalah beragama (penyakit syubhat) atau dalam masalah syahwat dunia (penyakit syahwat), atau dalam kedua penyakit tersebut sekaligus. Ulama merinci sebagai berikut:
Jika terkait dengan hawa nafsu jenis syubhat, maka bisa sampai menjerumuskan seseorang ke dalam status ahli bid’ah dan dinamakan ahlul ahwa`. Dan kebiasaan salaf menamai ahli bid’ah dengan nama ahlul ahwa`.
Adapun hawa nafsu jenis syahwat, maka terbagi dua, yaitu dalam perkara yang mubah, seperti makan, minum, dan pakaian dan bisa juga dalam perkara yang diharamkan, seperti zina, khamr, dan pelakunya dinamakan dengan fajir, fasiq, atau pelaku maksiat.
Dari beberapa pemaparan di atas, maka selayaknya kita dapat menyimpulkan bahwa:
Iblis telah bersumpah untuk menyesatkan manusia sampai hari kiamat nanti.
Iblis akan menyesatkan dan menghalangi manusia agar tidak menempuh seluruh jalan kebenaran dan keselamatan. Iblis akan menjadikan kebatilan indah dalam pandangan manusia sehingga mereka terjerumus ke dalamnya.
Akan banyak orang yang mengikuti penyesatan iblis dan kita dianjurkan untuk meminta perlindungan dan penjagaan kepada Allah Azza wa Jalla dari Iblis dan pasukannya.
Jika terkait dengan hawa nafsu jenis syubhat, maka bisa sampai menjerumuskan seseorang ke dalam status ahli bid’ah.
Jika terkait hawa nafsu jenis syahwat, maka terbagi dua, yaitu dalam perkara yang mubah, seperti makan, minum, dan pakaian dan bisa juga dalam perkara yang diharamkan, seperti zina, khamr, dan pelakunya dinamakan dengan fajir, fasiq, atau pelaku maksiat.